KKN Tematik ITB 2016: Survei ke Desa Mekarwangi dan Mekarmulya (Bagian 1)

Oleh: Rahman Nur Hakim (12214013)

KKN Tematik ITB 2016
KKN (Kuliah Kerja Nyata) Tematik merupakan salah satu kegiatan kampus yang menjadi sarana dalam pengaplikasian ilmu yang sudah dipelajari dengan basis pengabdian masyarakat. KKN Tematik juga menjadi sarana pemenuhan peran mahasiswa seperti dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian Masyarakat. KKN yang diselenggarakan oleh suatu universitas kadangkala berbeda dengan universitas lain. Perbedaanya ada pada arah atau sifat. Ada universitas yang lebih fokus pada pemberdayaan masyarakat, ada juga universitas yang lebih mengedepankan semangat pembangunan masyarakat. Sekarang ini, tak dapat dipungkiri hampir tiap universitas telah berupaya melaksanakan KKN. Tak terkecuali Institut Teknologi Bandung. Sebenarnya KKN baru dilaksanakan beberapa kali oleh ITB. Dulu sudah pernah dilaksanakan, namun baru beberapa tahun terakhir digiatkan lagi (kalau tidak salah, baru sejak tahun 2011). Arah KKN ITB lebih mengarah ke Pembangunan, bukan ke Pemberdayaan. Karena memang ternyata masih banyak problem mengenai pembangunan yang belum terselesaikan. Lokasi dari KKN ITB adalah sekitar Jawa Barat. FYI, KKN ITB ini bukan merupakan sebuah hal yang wajib diikuti oleh mahasiswa. Tapi dijadikan sebagai mata kuliah 2 sks dan biasanya diikuti anak tingkat 2-3, dengan jumlah peserta hanya 150-160 orang per tahun. Mahasiswa tidak dipungut biaya sama sekali untuk mengikuti kegiatan ini alias gratis (tentunya berbeda dengan universitas lain).



Mengapa saya menyinggung tentang KKN? Karena, rencananya ITB juga akan melaksanakan KKN Tematik tahun ini, InsyaAllah bulan Juli-Agustus 2016 (kira-kira 20-30 hari). Survei-survei pun telah dilaksanakan sebelumnya dan hingga akhirnya didapatkan lokasi KKN yaitu di Desa Mekarwangi dan Desa Mekarmulya, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut. Dari hasil survei ada beberapa tema yang diusung antara lain: air, pendidikan, infrastruktur, dan energi. Kebetulan sekarang sedang diamanahi menjadi panitia bersama angkatan 2013. Saya masuk di tim infrastruktur (yang membidangi permasalahan seperti jembatan, jalan, madrasah, sekolah dll). Tanggal 5-6 Maret 2016 kemarin, saya kebagian survei (pertama bagi saya, kesekian kali untuk tim KKN) ke desa-desa tersebut. Survei ini lebih ke arah sosial masyarakat, karena survei kondisi existing teknis sudah dilakukan sebelumnya. Ini cerita survei kami...

Sabtu, 5 Maret 2016
Pukul 03.00. Kami (sejumlah 9 orang antara lain: saya, Kak Yoga, Kak Rafid, Kak Derin, Kak Bayu, Kak Yongki, Kak Azi, Kak Arif, dan Baim) berkumpul di depan Kubus ITB untuk keberangkatan. Kami berangkat menuju desa itu  menggunakan 2 mobil.
Pukul 07.00. Sampai di Pangalengan Kab Bandung. Sepanjang perjalanan dari ITB hingga Pangalengan saya tertidur. Kami berhenti di Pangalengan untuk sarapan pagi.
Pukul 10.30. Kami sampai di Desa Mekarwangi. Tim dipisah menjadi 2 yaitu tim Mekarwangi dan Mekarmulya. Saya masuk di tim Mekarwangi. Hari ini survei sesuai nama tim. Lalu besoknya, akan di-switch, jadi kami bisa merasakan apa permasalahan yang sedang terjadi di desa tersebut. Walaupun Garut berbatasan dengan Kab Bandung tapi ternyata perjalanan dari ITB harus ditempuh selama hampir 7,5 jam. Perjalanan ini ibarat menembus bukit, karena memang untuk sampai ke desa-desa ini harus melewati bukit-bukit.  pemandangan bentang bukit selama perjalanan sangat bagus. Ini foto pemandangan yang berhasil diabadikan oleh kamera kami...

Pemandangan sepanjang perjalanan menuju tujuan
Ini bukan lukisan, tapi pemandangan sepanjang perjalanan

Melewati jalan berliku-liku yang mirip lintasan balap, kami akhirnya bisa menjejakkan kaki di desa ini. Perjalanan ini memang terkesan gampang, tapi jangan salah teman-teman, melewati jalan berbelok-belok itu perlu kemampuan khusus, selama perjalanan sopir harus sigap dan waspada.Salah sedikit saja dalam pengendalian bisa menabrak pagar pembatas jalan ataupun masuk ke jurang. Kondisi jalan memang cukup bagus hingga ke jalan provinsi. Namun, saat sudah akan memasuki desa, jalan mulai agak rusak. Bekas longsor di kanan kiri terlihat sesekali. Saat sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh, saya kira kami sudah sampai. Tapi, ternyata itu hanya jalan penghubung antar desa. Untuk masuk ke desa Mekarwangi, harus masuk ke sebuah jalan. Jadi konsepnya, Jalan Provinsi - Jalan Penghubung antar desa - Jalan Desa. Jalan desa ini lebih layak disebut tanah berbatu yang sering dilewati orang. Ada sih bekas aspal, tapi kelihatannya sudah lama rusak, dan tak kunjung mendapatkan perbaikan. Mobil harus melewati jalan berbatu ini untuk bisa sampai ke desa ini.

Kantor desa Mekarwangi
Pukul 10.45. Survei pertama adalah tentang pendidikan. Kami (Kak Rafid, Kak Yongki, Kak Azi, Kak Arif dan saya) mendatangi SD dan SMP yang ada di desa ini. Kondisi bangunan SD tidak terlalu buruk. Begitu pula dengan kondisi bangunan SMP. Hanya mungkin kekurangannya adalah tidak lengkapnya fasilitas seperti: tidak adanya laboratorium dll. Ya fasilitasnya seadanya dan bisa dibilang cukup untuk SMP kelas "desa". Setelah wawancara dengan pihak sekolah (baik SD maupun SMP), permasalahan lebih besar adalah mengenai kualitas pendidikan bukan dalam hal fasilitas. Hasil wawancara dengan pihak SD Mekarwangi 2 antara lain: kesadaran untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat menengah pertama sudah cukup tinggi dilihat dari statisitk yang menunjukkan hampir 100% melanjutkan, prestasi sekolah cukup bagus untuk ukuran sekolah "desa" dan tidak terlalu tertinggal dari SD lain di desa sekitar.

SMP Maarif Talegong
Anak-anak sedang bermain volley
Gerbang masuk SMP Maarif Talegong
Di tingkat SMP ternyata permasalahan lebih serius terjadi. Kebanyakan siswa SMP tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Yang melanjutkan rata-rata hanya sekitar 10 orang per tahun. Siswa yang tidak melanjutkan memilih untuk menikah atau langsung bekerja. Tentu ini menimbulkan banyak pertanyaan seperti: alasannya apa? Setelah mengorek-orek informasi ternyata yang menjadi faktor utama adalah mental dari siswa dan orang tua yang masih menganggap bahwa pendidikan bukan merupakan hal yang penting. Banyak yang berpikir, apa arti pendidikan kalau yang berpendidikan akhirnya malah bekerja seperti orang tuanya, menjadi petani. Permasalahan mental. Inilah permasalahan utama yang InsyaAllah akan menjadi fokus utama tim Pendidikan KKN Tematik ITB 2016.

Pukul 12.30. Survei dilanjutkan ke Jembatan Cilaki. Sebelum itu, saya ingin bercerita mengenai jalan yang harus ditempuh. Mobil kami parkir di depan sebuah rumah. Lokasi parkir ini merupakan titik jalan maksimal untuk sebuah mobil. Kalau mobil ini dipaksakan lebih jauh lagi, maka tidak tahu apa yang akan terjadi, bisa saja mobil rusak, bisa saja mobil tidak bisa naik (untuk pulangnya). Maka demi keselamatan bersama, kami putuskan untuk parkir disini. Sebelum ke jembatan, kami pergi ke rumah Pak Kades yang kira-kira berjarak 20 menit dengan jalan kaki. Setelah sampai di rumah pak Kades ternyata beliau sedang tidak di rumah. Oleh karena itu, kami lanjutkan perjalanan ke jembatan Cilaki. Jembatan ini ternyata tidak dekat. Dari rumah Pak Kades kira-kira kami menempuh perjalanan hingga 40 menit (dengan jalan kaki santai).
Harus jalan kaki hingga 40 menit untuk sampai di jembatan 

Sekitar pukul 13.30 baru sampai di jembatan. Jembatan Cilaki ini merupakan jembatan yang menghubungkan antara 2 desa yaitu Desa Mekarwangi dan Desa Lindung.
Kondisi jembatan Cilaki
Jembatan hanya berlantaikan bambu
Jembatan Cilaki yang menghubungkan 2 desa

Dari pengamatan dan wawancara selama perjalanan, kami mendapatkan berbagai informasi antara lain:


Selama perjalanan, saya dan tim mewawancarai beberapa orang. Kami mewawancarai salah satu warga yang bekerja sebagai penjual makanan kecil di jalan menuju jembatan. Dari situ kami medapatkan beberapa informasi antara lain: tingkat gotong royong warga yang masih cukup tinggi (dibuktikan dengan sering diadakannya gotong royong). Kedua, jembatan ini cukup vital dan sering dipakai oleh warga untuk beraktivitas. Setelah itu, karena kami kesulitan berbicara menggunakan bahasa Sunda kami melanjutkan perjalanan. Di jalan kami bertemu dengan Bapak-bapak yang kemungkinan baru saja dari desa seberang. Dari situ, kami mendapatkan beberapa informasi yaitu di sekitar jembatan tidak ada hewan buas. Dan penegasan bahwa jembatan ini cukup penting dan ramai dilewati oleh warga. Kondisi jembatan bisa dibilang cukup mengenaskan. Lantai jembatan terlihat sangat rapuh. Hanya berlantaikan kayu tua. Selain itu, juga terlihat cukup licin apabila hujan. Dengan tidak adanya penghalang solid di sebelah kiri-kanan maka bisa dibilang cukup membahayakan orang yang lewat jembatan. Di sekitar jembatan, kami bertemu dengan seorang petani. Kami ngobrol walaupun bapak ini hanya bisa bicara bahasa sunda. Kami mendapatkan informasi seperti jembatan ini penting bagi dia dan jembatan ini pernah menelan korban karena safetynya yang buruk. Pengamatan jembatan, di sekitar lokasi jembatan kami menemukan hutan bambu. Di desa sebelah, ada sawah-sawah. Pemukiman dari desa sebelah belum terlihat hingga sekitar 1 km dari jembatan. Setelah mengamati jembatan dan mengambil data di jembatan (elevasi dll) oleh kak Arif dan tim. Kami melanjutkan perjalanan pulang. Dari jembatan hingga ke rumah warga desa Mekarwangi terdekat kira-kira berjarak 10 menit. Sehingga, untuk masalah pelistrikan dan penerangan untuk kebutuhan pekerjaan nantinya, tidak feasible jika mengandalkan listrik dari rumah warga (PLN). Namun, di sekitar jembatan (di desa Lindung) ada mikrohidro/pembangkit listrik tenaga air kecil-kecilan. Tapi, belum tahu apakah pembangkit itu bekerja atau tidak. Di perjalanan pulang, kami berhenti di sebuah ruko kecil yang rumahnya tidak terlalu jauh dari jembatan. Dari situ kami mewawancarai ibu penjual (yang ternyata adalah istri dari petani yang kami temui di sekitar jembatan) dan mendapatkan beberapa informasi, seperti: sudah jarang hewan buas (palingan monyet, biawak), dan gotong royong warga masih cukup bagus. Kami bertanya secara tersirat apakah ibu ini setuju jika jembatan dirombak. Ibu itu menjawab dengan raut muka bahagia bahwa beliau setuju jika dirombak. Karena, jembatan itu vital untuknya dan keluarganya. Walaupun, beliau tinggal di Mekarwangi namun ternyata beliau lebih sering ke desa sebelah. Bahkan, kalau berbelanja lebih suka di desa sebelah dan sekitarnya seperti ke Mancagahar (desa setelah desa Lindung), Cibungur. Anaknya sendiri bersekolah di Mancagahar. Sejak SD hingga SMA disekolahkan di sekitar Mancagahar. Karena lebih dekat (hanya setengah perjalanan) dan infrastruktur jalan lebih manusiawi. Saat ditanya mengenai mitos di sekitar jembatan (untuk memenuhi parameter survei), beliau mengatakan bahwa mitos ada, namun kurang tahu secara detailnya. Mengenai listrik di sekitar jembatan, saya mencoba mengambil sampel atau pertanyaan mengenai kondisi listrik di rumahnya. Beliau mengatakan jika listrik di rumahnya tidak terlalu kuat (berdaya lemah, buktinya sering mati-mati) maksimal TV. Jika beliau menyalakan kulkas, langsung mati listrik di rumahnya. Jadi, kemungkinan besar harus pakai genset untuk keperluan listrik dan penerangan dalam pengerjaan jembatan.

Dari hasil survei, menurut saya memang permasalahan infrastruktur di desa ini sudah jelas yaitu masalah jembatan. Jembatan harus diperbaiki mengingat kondisinya yang sagat buruk, sehingga bisa mengganggu keselamatan warga yang melintas. Sebenarnya kondisi jalan juga menjadi permasalahan namun melihat dari kefeasibilitasan maka kami menimbang-nimbang untuk menyelesaikan permasalahan jembatan dulu. Setelah survei dirasa sudah terpenuhi semua parameternya maka kami kembali ke rumah Pak Kades. Saat perjalanan, karena perut kami kosong dan kondisi yang hujan maka kami putuskan untuk makan dulu di warung pinggir jalan. Walaupun bukan nasi yang kami makan, hanya bala-bala dan jajan yang banyak micinnya, setidaknya itu bisa mengganjal perut kami.

Pukul 18.00. Sampai di rumah Pak Kades. Kami memutuskan bermalam di rumah Pak Kades. Esok hari adalah giliran kami untuk survei ke Desa Mekarmulya.

No comments:

Powered by Blogger.