Kilang LNG Blok Masela di Darat, Merugikan atau Menguntungkan?

Baca sebelumnya Jangan Sampai Ada Kepentingan di Blok Masela!!
Penjelasan mengenai apa itu LNG, baca di Mengenal Gas Konvensional

10 April 2016

Peta lokasi Blok Masela


Setelah melewati berbagai kisruh, polemik, dan berbagai pertimbangan mengenai skema pembangunan kilang LNG yang paling tepat untuk Blok Masela, pemerintah (dalam hal ini Presiden Jokowi) akhirnya memutuskan bahwa pembangunan kilang LNG akan dilakukan secara on-shore pada 23 Maret 2016 laluPertimbangan itu didasarkan pada kehendak masyarakat sekitar yang menginginkan dibangunnya kilang di darat. Beliau mengatakan keputusan ini diambil karena lebih memiliki multiplier effect untuk masyarakat. Dengan adanya kilang di darat, tenaga lokal akan lebih banyak yang terserap dan mampu menghidupkan industri-industri seperti: Petrokimia, konstruksi di kawasan Indonesia Timur. Jika kilang LNG dibangun di laut, tentunya akan menyebabkan rakyat sekitar hanya akan menjadi "penonton" proyek.


Sebenarnya, tiap keputusan baik itu FLNG atau On-Shore LNG pasti memiliki beberapa kelemahan (seperti yang tertulis pada tulisan saya sebelumnya). Mencoba merunut dari keuntungan dibangunnya kilang di darat, berikut ini adalah beberapa keuntungan itu:
1. Sesuai dengan amanah pasal 33 ayat 3 UUD 1945.

Bunyi dari pasal 33 ayat 3 UUD 1945:
Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pembangunan kilang di darat, sudah barang pasti ditujukan agar masyarakat sekitar juga sejahtera. Pemerintah mengharapkan apabila masyarakat tidak hanya menjadi penonton. Adanya proyek OLNG, diperkirakan akan menyerap tenaga kerja sekitar 7000 orang. Dengan dibutuhkannya tenaga sebanyak itu, pemerintah mengharapkan tenaga lokal (sekitar Maluku dan NTT) bisa terserap. 

2. Menjadi cahaya baru bagi kawasan Indonesia Timur. Dengan dibangunnya OLNG di darat, pemerintah mengharapkan munculnya Bontang baru di Indonesia Timur. Yang akan membuka gerbang ke arah kemajuan industri dan kesejahteraan rakyat. 

3. Industri Petrokimia bisa berkembang. Pembangunan kilang di darat, bisa mengubah orientasi produk LNG. Rencana semula yang FLNG lebih berorientasi ke arah ekspor, sekarang bisa berfokus ke arah pengolahan LNG di dalam negeri. LNG dari blok Masela bisa langsung dimanfaatkan oleh industri Petrokimia secara langsung di sekitar lokasi Blok Masela.

Selain menguntungkan, berikut ini adalah dampak negatif adanya pembangunan kilang LNG di darat:
1. Nilai investasi menjadi lebih besar dan tidak pasti. Keputusan pembangunan kilang di darat menyebabkan investor harus melakukan kajian ulang mengenai POD (Plant of Development) blok Masela. Investor harus mengulang dari awal seluruh pekerjaannya. FEED yang sudah selesai dibuat untuk mekanisme Floating LNG, ibaratnya seakan menjadi sampah tak berguna. Padahal untuk membuat kajian mengenai PoD dan FEED memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sehingga, nilai investasi pasti akan bertambah karena hal ini. Selain harus merevisi PoD, investor juga harus mengkaji lokasi mana yang kiranya sesuai untuk dibangun kilang LNG. Beberapa kajian selepas keputusan presiden, menyarankan dibangunnya kilang di Pulau Selaru. Pulau ini dinilai cocok karena memiliki luas wilayah yang sesuai yaitu sekitar 353,87 km2 dan jaraknya yang dekat dengan Lapangan Abadi hanya sekitar 90 km. Mengutip pernyataan dari Tenaga Ahli Menko Maritim dan Sumber Daya Abdul Rachim, pulau ini adalah yang paling feasible dan dekat dengan lapangan Abadi. Menurut beliau, investasinya sebesar US$ 16 milliar (nilai investasi sudah termasuk biaya perpipaan). Ini tentu mengindikasikan adanya ketidakpastian nilai investasi. Apabila setelah dilakukan kajian dan ternyata misalnya pulau ini tidak cocok dibangun kilang, maka harus mencari lagi pulau terdekat lain; misalnya bisa di Pulau Saumlaki, Pulau Aru atau Pulau Tanimbar. Tapi, tentu saja akan memakan investasi yang lebih besar lagi. Contohnya: jarak Pulau Aru ke Lapangan Abadi adalah sekitar 600 km. Bayangkan saja, untuk yang 90 km saja memakan nilai investasi total sebesar US$ 16 miliar apalagi yang jaraknya 600 km. Dengan adanya ketidakpastian nilai investasi, sekarang memunculkan spekulasi bahwa investor bisa saja hengkang dari Blok Masela.

2. Makin molornya Blok Masela untuk On-Stream. Pada revisi PoD I, blok Masela dijadwalkan on-stream pada tahun 2023-2024. Namun, karena revisi ini ditolak maka penjadwalan harus diatur ulang. Pasti akan memakan waktu lagi untuk feasiblility study, AMDAL dll. Sebuah kajian, mengatakan apabila kajian awal seperti: feasibility study, AMDAL, akan memakan waktu hingga 1 tahun. Jadi, diperkirakan Blok Masela baru akan On-Stream pada tahun 2025-2026. Mengapa On-Stream ini mendesak? Seperti yang telah diketahu bahwa Shell juga sedang melakukan pembangunan kilang LNG secara offshore di cekungan Browse (cukup dekat dengan blok Masela). Proyek ini akan jadi proyek FLNG terbesar di dunia dan dijadwalkan on-stream pada tahun 2017. Sudah barang tentu, pada tahun 2025-2026 pasar LNG akan dibanjiri produk dari Australia.

3. Proyek Kilang LNG di Darat adalah Proyek "Basah". Sebenarnya, efek ini bukan efek negatif secara langsung. Diadakannya pembangunan kilang di darat tentu saja akan mengundang proyek-proyek lain seperti: konstruksi pipa bawah laut, listrik, kapal-kapal transportasi dll. Sehingga, proyek kilang di darat merupakan proyek yang padat akan aliran uang. Namun, kondisi seperti ini bisa menyebabkan sebuah kerugian. Dengan adanya proyek-proyek lain, kemungkinan untuk terjadinya penyalahgunaan wewenang (read: korupsi) tentu saja makin besar. Contoh kecil: bayangkan saja misalnya ada sebuah perusahaan pipa yang mendapatkan proyek perpipaan untuk Blok Masela karena melakukan suap. Berapa banyak keuntungan yang diraup perusahaan itu? Bisa jadi kaya mendadak. Itu baru proyek perpipaan. Bagaimana dengan proyek lain seperti: pengadaan listrik? Ya, harus diakui proyek OLNG di blok Masela adalah proyek yang "basah". Proyek ini akan jadi boomerang apabila pemerintah tidak bisa transparan dan jujur.

Disini, saya tidak mengupas keuntungan/kekurangan Floating LNG karena itu sudah saya lakukan pada postingan saya sebelumnya. Keputusan yang sudah diambil, tidak boleh ditarik lagi walaupun mungkin sebenarnya ada alternatif lain yang seharusnya bisa diambil oleh pemerintah, seperti: pengelolaan lewat CNG. Saya tidak ingin mengupas alternatif ini lebih dalam. Yang intinya pengolahan lewat CNG memiliki lebih banyak multiplier effect (Untuk detailnya, teman-teman bisa membacanya DISINI).

Tujuan saya membuat tulisan ini adalah agar kita sebagai rakyat aware terhadap keuntungan dan kerugian yang didapatkan dengan pembangunan kilang LNG di darat. Untuk keuntungan misalnya: kita harus mempersiapkan diri, belajar dengan keras sehingga bisa memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk bisa mengelola blok ini. Jangan sampai perjuangan Presiden agar blok ini bisa dikelola oleh tangan-tangan tenaga kerja lokal pupus begitu saja karena asing lebih berkompeten secara teknis. Jangan sampai malahan kebanyakan menggunakan tenaga asing untuk mengelola blok ini. Untuk kerugian yang mungkin bisa saja timbul: kita harus selalu kritis terhadap keputusan pemerintah tentang tender-tender pembangunan kilang LNG. Apa saja. Dari tender instalasi listrik hingga perpipaan harus dicermati. Jangan sampai kekritisan kita berhenti disini saja. Berhenti di kala keputusan sudah diambil. Jangan sampai kita biarkan tikus-tikus kerah biru menguasai blok ini. Jangan sampai hanya sebagian golongan yang menikmati blok ini. Milik bangsa harus dinikmati oleh seluruh bangsa.

Mari kita bekerja keras dan berdoa agar niat baik pemerintah dengan menjatuhkan keputusan pembangunan kilang di darat tidak sia-sia.
Hidup Indonesia!!!!

Referensi:

No comments:

Powered by Blogger.