Sadiq Khan, Sebuah Bukti Kegagalan Politik Black Campaign

Sosok Sadiq Khan, Walikota London 2016-2020

Beberapa minggu yang lalu, tepatnya tanggal 5 Mei 2016, saya membaca berita di Internet mengenai terpilihnya Walikota London yang baru bernama Sadiq Khan. Mungkin agak telat ya. Saya tidak terlalu mengikuti perkembangan politik di mancanegara, sehingga saya baru tahu siapa itu Sadiq Khan saat dia terpilih sebagai walikota. Awalnya saya agak tidak percaya dengan berita ini, lalu saya mengkonfirmasi dengan menonton video dari CNN di Youtube. Kenyataan yang cukup mengagetkan saya dapatkan, yaitu memang Sadiq Khan terpilih sebagai walikota London setelah mengungguli Zac Goldsmith di pemilu. Kekagetan saya ini berasal dari identitas Sadiq Khan. Dari mendengar namanya saja saya sedikit mengetahui identitas beliau. Dengan adanya nama marga Khan di belakang namanya, menandakan satu hal yaitu asal keturunan. Khan sendiri setahu saya adalah nama marga yang cukup besar di India dan Pakistan. Lalu, biasanya nama Khan sendiri diidentikan dengan Islam. Dengan tebakan awal seperti itu, saya memperkirakan bahwa dia adalah keturunan India/Pakistan yang beragama Islam. Setelah mencari sedikit informasi mengenai beliau, ya perkiraan saya memang cukup benar. Sadiq Khan adalah keturunan British-Pakistani (ayahnya yang seorang sopir taksi berdarah Pakistan ) dan agamanya memang Islam.


Apa reaksi saya? Saya cukup kaget. London adalah salah satu kota terbesar di dunia. London merupakan ibukota dari negara yang dijuluki Matahari Tak Pernah Tenggelam, Inggris. Kota yang katanya pusat seni dan budaya di dunia. Kota dimana ada klub besar sepakbola seperti, Chelsea, Arsenal dan Tottenham. Namun, sekarang kota ini dipimpin oleh seorang muslim. Saya yang juga seorang Muslim merasa kagum dengan Sadiq Khan. Seperti yang diketahui apabila mayoritas penduduk London beragama Kristen. Muslim disana hanya sekitar 12%. Saya disini tidak ingin membicarakan mengenai kemenangan muslim atau bagaimana, saya ingin membahas sisi lain dari proses election.

Setelah terpilihnya Sadiq Khan, saya sedikit  membaca-baca tentang bagaimana Sadiq Khan bisa terpilih sebagai Walikota London. Sadiq Khan yang diusung oleh Labour Party mampu mengungguli Goldsmith yang diusung oleh Conservative Party. Saya menyadari ternyata Sadiq Khan memang sudah malang melintang dalam perpolitikan di Inggris. Dia pernah menjadi menteri dan duduk di Parlemen. Jadi, saya melihat bahwa terpilihnya beliau adalah karena kualitas yang dimilikinya. Lalu, ada satu hal yang cukup membuka mata saya yaitu adanya persamaan kejadian pemilu antara Indonesia dan London. Saya melihat kalau di London ternyata cukup banyak Black Campaign. Apa itu black campaign? Black campaign adalah salah satu bentuk kampanye tapi dengan cara menjatuhkan calon lain. Adapun beberapa hal yang biasa diserang antara lain: track record, SARA, isu-isu dll. Karena Sadiq Khan berasal dari golongan minoritas sudah pasti mendapatkan banyak Black Campaign. Hal yang cukup membedakan Black Campaign antara di London dan Indonesia yaitu kalau di Indonesia biasanya Black Campaign dilakukan secara sembunyi-sembunyi melalui tim sukses dll biasanya kalimat yang digunakan kasar, tapi kalau di London Black Campaign dilakukan secara terang-terangan oleh calon lain maupun pendukung calon, sifatnya biasanya lebih halus.

Karena Sadiq Khan beragama Islam dan merupakan seorang keturunan, sudah pasti yang diserang adalah isu SARA. Saya membaca-baca dari beberapa website asing mengenai isu Black Campaign yang terjadi. Anita Vasisht, seorang lawyer keturunan British-Indian, menuliskan beberapa hal mengenai apa yang terjadi di Inggris. Dia bercerita saat tgl 15 Maret 2016, dia mendapatkan sebuah surat print-out dari Perdana Menteri Inggris, David Cameron. Di surat tersebut ada beberapa kalimat yang cukup aneh dan mengundang kontroversi. Berikut adalah isi surat dan penjelasan dari Vasisht mengenai surat yang diterimanya itu :

Under the heading The British Indian Community Makes London Great, Cameron wrote: "The British Indian community makes an extraordinary contribution to London and to Britain. Closer ties between the UK and India have been a priority for me as prime minister. I was pleased to join Zac Goldsmith in welcoming Prime Minister Modi to the UK last year at Wembley Stadium.”  Then, under the heading The Risk Of A Corbyn-Khan experiment, Cameron described the policies of “Jeremy Corbyn’s candidate Sadiq Khan” as “dangerous”. If Khan won, Cameron said, “Londoners will become lab rats in a giant political experiment”

Inti dari surat itu berisi bahwa Cameron mendukung Goldsmith untuk menjadi walikota London. Selain itu, Cameron menambahkan kalau usulan kebijakan dari Jeremy Corbyn (Ketua Labour Party) berbahaya. Apa hubungannya? Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa Khan diusung oleh Partai Buruh, sehingga secara tidak langsung, Cameron menilai Khan akan berusaha menjalankan kebijakan dari Jeremy Corbyn. (Mengenai apa saja usulan kebijakan dari Jeremy Corbyn, bisa buka di LINK INI). Maka jika Khan menang, Warga London akan menjadi tikus percobaan dalam sebuah ekperimen politik yang besar. Selain itu, Vasisht menambahkan kalau dia sedikit marah karena dalam surat itu kebanyakan menggunakan kata "your community". Mungkin memang Cameron bukan seorang British Indian, tapi dengan penggunaan kata ini seolah membuat barrier antara Cameron dan dirinya, seolah-olah Vasisht ini bukan berada di community yang sama yaitu komunitas United Kingdom.

Vasisht kemudian mendapatkan informasi apabila Muhunthan Paramesvaran, seorang lawyer keturunan Tamil mendapatkan surat dari Goldsmith yang juga berisi Black Campaign. Berikut adalah penjelasan dari surat yang diterima Paramesvaran:

Under the heading The Tamil Community Has Contributed Massively To London, Goldsmith wrote: “I recognise that far too often Tamil households are targeted for burglary due to families owning gold and valuable family heirlooms.” Under the heading Sadiq Khan Will Put London’s Future And Your Community At Risk, he wrote: “As a government minister, Sadiq Khan did not use his position to speak about Sri Lanka or the concerns of the Tamil community in parliament. His party are beginning to adopt policies that will mean higher taxes on your family and your family’s heirlooms and belongings. We cannot let him experiment with these radical policies.” 

Goldsmith menyebutkan apabila Khan terpilih menjadi walikota, dia akan menerapkan kebijakan baru yaitu memungut pajak lebih tinggi atas kepemilikan pusaka dan emas. Kaitannya pada orang-orang Tamil adalah etnis Tamil biasanya memiliki emas dan pusaka (karena agama). Selain itu, Goldmith mengatakan bahwa selama menduduki jabatan di pemerintah, Sadiq Khan juga tidak terlalu "perhatian" pada komunitas Tamil dan Srilanka. Jelas ini adalah sebuah Black Campaign. Seolah-olah Sadiq yang merupakan keturunan Pakistan tidak peduli pada etnis Tamil.

Selain mendapatkan surat dari Goldsmith, Paramesravan juga mendapatkan surat dari Cameron yang berisi bahwa Cameron, promising that Goldsmith would “keep our streets safe from terrorist attacks”.  (Maaf jika menggunakan bahasa Inggris). Jelas surat ini mengatakan apabila Khan tidak akan bisa membuat London aman dari serangan teroris. Secara tidak langsung ini memiliki relasi dengan status keyakinan dari Sadiq Khan yang seorang Muslim. Karena, Muslim di dunia barat masih diidentikan dengan teroris. Bayangkan, sekelas Perdana Menteri saja menggunakan cara-cara yang kurang baik untuk mendapatkan dukungan publik.

Selain dari Goldsmith selaku rival dan Cameron selaku PM Inggris, saya juga beberapa kali menjumpai black campaign lewat video di Youtube oleh beberapa orang, seperti mengatakan: London has Fallen, Sadiq Khan is an extrimist dll. Walaupun mendapatkan Black Campaign yang cukup bertubi-tubi, tapi black campaign ini seperti tidak ada artinya. Sadiq Khan tetap terpilih walaupun bukan dari golongan mayoritas. Sadiq Khan tetap terpilih walaupun mendapatkan kampanye hitam bertubi-tubi. Ini membuktikan suatu hal bahwa Black Campaign sudah tidak zaman lagi, sudah tidak efektif untuk mendapatkan atensi publik. Apalagi jika Black Campaign itu menyerang keyakinan dan suku. Alih-alih mendapatkan simpati, kemuakan publiklah yang didapatkan. Saya kemudian berpikir mengenai yang sedang terjadi di Indonesia. Di Indonesia tidak jauh beda dengan di London. Contoh yang paling tampak jelas adalah saat PilPres 2014 lalu, saat kedua kubu pendukung saling serang dengan memberikan kampanye-kampanye hitam seperti: Jokowi antek Amerika, Prabowo antek OrBa, dll. Bahkan, saya pernah melihat black campaign yang mengatakan kalau Jokowi adalah etnis Tionghoa. Kacau kacau.

Sekarang yang sedang menyita perhatian publik adalah Pilgub DKI Jakarta 2017. Ahok, seorang Tionghoa dan Nasrani, maju mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI. DKI Jakarta, sebuah provinsi yang menjadi pusat ekonomi dan pembangunan Indonesia. Sebuah provinsi terpadat di Indonesia yang di dalamnya dihuni sekitar 85% muslim. Sehingga, black campaign kacangan seperti: Jangan pilih pemimpin Ahok karena dia kafir, Ahok Cina, dll, pun berterbangan ke publik. Jujur sebagai seorang Muslim, saya kecewa dengan adanya kampanye-kampanye seperti ini. Menurut saya, kasusnya bisa sama, seperti Sadiq Khan. Bukan atensi publik yang didapatkan, tetapi malah kemuakan. Ya jujur saya muak apabila melihat misalnya suatu ormas Islam ikut-ikutan berkampanye. Contoh paling keras yang pernah saya baca adalah "Jangan pilih Ahok Laknatullah". Benar-benar parah lah.

Pandangan dari Kacamata Seorang Muslim 
Saya adalah seorang Muslim yang berusaha memegang teguh ajaran-ajaran Islam. Di Islam sendiri ada beberapa ayat di Alquran yang memang melarang kita untuk memilih calon pemimpin non-muslim. Di Alquran berarti perintah dari Allah. Tapi, tolonglah jangan jadikan ini sebagai dalih untuk melakukan Black Campaign. Secara tidak langsung, perkataan seperti Laknatullah begitu bisa melukai hati orang lain. Bagaimana jika Sadiq Khan mendapatkan Black Campaign yang lebih parah seperti: "Jangan pilih Khan Muslim Teroris". Pasti akan banyak muslim yang langsung bereaksi. Yang menurut saya perlu digarisbawahi adalah pilihan tetap pada orang itu sendiri. Kita harus tetap menggunakan prinsip-prinsip yang berlaku di suatu negara dalam hal ini terkait dengan Pemilu yaitu LUBeRJurDil. Salah satu prinsip itu adalah Bebas. Menurut saya, sebagai seorang Muslim yang dilakukan kepada Muslim lain hanyalah mengingatkan bahwa ada perintah Tuhan mengenai cara memilih seorang pemimpin. Sudah itu saja, sebatas mengingatkan. Jangan sampai ditambahi dengan cerita-cerita yang kemudian menjatuhkan calon lain. Tanda-tanda bahwa kita tak bisa memiliki kualitas yang sama dengan orang lain adalah saat kita mulai mencoba menjatuhkannya. Seharusnya yang dilakukan oleh seorang Muslim yang baik adalah membuktikan bahwa ada pemimpin muslim yang lebih berkualitas, bukan malah menjatuhkan pemimpin lain (non-muslim) yang berkualitas.

Sebenarnya, memilih pemimpin dalam Islam juga masih kontroversial. Mana yang lebih baik antara pemimpin muslim yang kelakuannya buruk atau pemimpin non-muslim yang karakternya berkualitas? Kalau menurut saya urusan memilih pemimpin diserahkan pada pribadinya sendiri. Ini sudah urusan prinsip hidup. Mana nilai yang lebih dianutnya, apakah nilai agama atau mungkin pertimbangan lain seperti kualitas. Jika menganggap nilai agama paling benar ya sudah, diyakini saja dan mengingatkan yang lain tapi jangan sampai Black Campaign. Sudah jelas kan Black Campaign sudah tidak efektif. Buktinya, cerita tentang Sadiq Khan tadi.

Jadi pertanyaannya sekarang, masih mau Black Campaign atas nama SARA?

Thanks to:
http://www.theguardian.com/politics/2016/apr/30/battle-london-mayor-dirtiest-fight-zac-goldsmith-sadiq-khan

No comments:

Powered by Blogger.