Review Buku #1: Rich Dad, Poor Dad (by Robert T. Kiyosaki)

Hallo, Gan. Kali ini saya ingin menyampaikan review dan pelajaran dari salah satu buku bisnis bestseller yang berjudul Rich Dad Poor Dad, karangan Robert T. Kiyosaki. Kiyosaki merupakan penulis, investor dan pengusaha yang cukup sukses di Amerika Serikat. Dalam buku ini, penulis menceritakan pengalaman hidupnya diasuh oleh 2 orang ayah. Dua orang ayah ini memiliki way of life yang berbeda. Satu ayah kandung berlatarbelakang PhD yang memiliki pandangan bahwa seseorang harus berpendidikan dan bekerja keras untuk mendapatkan uang disebut Poor Dad. Sementara, satu ayah lain (ayah dari temannya) berlatarbelakang tidak lulus SD yang memiliki pandangan bahwa uang harus bekerja untuk kita disebut Rich Dad. Poor Dad walaupun latar belakang pendidikannya tinggi, namun seringkali kesulitan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, sedangkan Rich Dad merupakan seorang yang berlatar belakang pendidikan biasa saja namun bisa kaya, bahkan sudah mempersiapkan warisan untuk anak-anaknya kelak.
buku rich dad poor dad

Menurut saya buku ini sangat ekstrim dan frontal dalam membuka pemikiran tentang uang yang diajarkan oleh orang tua pada umumnya. Kita harus memiliki pemikiran terbuka untuk bisa menerima buku ini, karena memang poin-poin yang coba disampaikan melalui buku ini akan sangat berbeda dengan nilai-nilai yang selama ini kita anut. Ya walaupun cukup banyak poin yang saya tidak setuju mengenai buku ini, tetapi masih sangat banyak juga pelajaran positif yang bisa diambil. Bagi saya, seorang generasi millenial yang akan menghasilkan uang sendiri dan ingin meraih financial freedom, buku ini sangat cocok dibaca sebagai pengantar dan membentuk pola pikir financial literacy. Overall, saya merekomendasikan  buku ini untuk dibaca.

Dari buku ini, saya memahami beberapa hal-hal baru. Ada beberapa poin yang ingin saya garis bawahi dari buku ini:

1. Orang miskin dan golongan menengah selalu berpikir bahwa untuk mendapatkan uang harus bekerja keras, sedangkan orang kaya berpikir bahwa uanglah yang seharusnya bekerja untuk mereka. Maksudnya begini, kita seringkali didoktrin bahwa harus kuliah setinggi mungkin lalu mendapatkan pekerjaan mapan lalu berpenghasilan tetap, artinya kita bekerja untuk mendapatkan uang. Itu adalah pola pikir orang miskin dan golongan menengah. Menurut buku ini, pola pikir yang dimiliki orang kaya adalah bagaimana caranya uang terus mengalir dengan bekerja seminim mungkin. 

2. Kemampuan membedakan yang mana asset, liabilities, income, expenses merupakan hal yang penting. Income merupakan pemasukan yang didapatkan, misal: gaji, keuntungan usaha, dividen, dll. Expenses merupakan sejumlah biaya yang dikeluarkan, misal: kebutuhan sandang pangan papan, pajak, maintenance, dll. Asset merupakan sejumlah barang/jasa yang dimiliki yang mampu memberikan income, misal: perusahaan, saham, real estate, dll. Saat membeli saham, real estate tentu kita berharap mendapatkan keuntungan. Keuntungan inilah yang menjadi income baru bagi kita. Liability merupakan sejumlah barang/jasa yang menambah pengeluaran, misal: mobil mewah, rumah mewah, dll. Saat kita membeli barang-barang seperti ini ternyata ada pengeluaran lain yang keluar. Contoh: kita memutuskan untuk membeli rumah mewah, maka akan diikuti pengeluaran lain seperti pajak barang mewah, pajak bumi bangunan, pengeluaran perabot yang semakin banyak, biaya listrik yang makin banyak, dll. Perbedaan antara orang kaya dan golongan menengah adalah golongan menengah tidak mampu membedakan yang mana asset, yang mana liability. Sehingga seringkali golongan menengah mengira telah membeli asset, padahal sebenarnya itu liability. Sedangkan orang kaya, sebisa mungkin "menaruh" uang mereka di asset dan memilih untuk membeli barang mewah di prioritas terakhir.

3. Cara terbebas dari rat race. Rat race didefinisikan Kiyosaki sebagai kondisi seseorang yang terus bekerja keras namun hasilnya tidak memuaskan (tidak mampu mendatangkan kekayaan). Bisa dibilang "pencarian tidak berujung". Inilah yang harus dihindari oleh setiap manusia di dunia ini. Namun, kadangkala seseorang tidak sadar sedang berada pada rat race. Cara menganalisisnya adalah dengan menganalisis cash flow, kemana larinya uang yang dimiliki. Misalkan, seseorang menganalisis bahwa sebenarnya kita bekerja 1 bulan untuk membayar pajak, 6 bulan untuk membayar kreditan rumah/mobil, 4 bulan untuk membayar kebutuhan, 1 bulan untuk saving. Ya sudah dipastikan kalau orang itu sedang berada di rat race. Semua penghasilannya lari ke pengeluaran dan hutang. Bagaimana menghindari rat race? Caranya adalah mengurangi liabilities, mengurangi expenses, menambah asset, dan menambah income. Untuk membeli suatu barang/jasa harus dipikirkan lagi terkait dengan apakah termasuk aset atau liabilities. Misalkan, saat kita baru diterima kerja karena gengsi maka kita memutuskan untuk membeli mobil secara kredit. Padahal mobil sebenarnya menambah kolom pengeluaran kita. Contohnya: biaya parkir, bahan bakar, tol, pajak, bunga kredit dll. Disini mobil menjadi liabilities. Liabilities harus dikurangi agar pengeluaran juga berkurang. Sebaiknya kita menggunakan penghasilan ke aset yang akan menambah income seperti real estate, saham, deposito, reksadana, usaha, dll.

4. Jenis-jenis asset. Untuk mencapai tahap financial freedom, dimana uang bekerja untuk kita, kita harus mulai mengalokasikan uang ke assets. Menurut Kiyosaki, asset akan menghasilkan 2 bentuk income yaitu: passive income dan portofolio income. Asset yang menghasilkan passive income antara lain: investasi di perusahaan (dividen), obligasi, penyewaan, royalti (buku, lagu, paten), dll. Asset yang menghasilkan portofolio income antara lain: saham (capital gain), reksadana, IOUs, dll.

5. Empat ilmu untuk mengasah financial literacy. Melek finansial adalah kemampuan yang harus selalu diasah karena diperlukan untuk mencapai financial freedom. Ada empat cabang ilmu yang harus dikuasai apabila seseorang ingin meningkatkan tingkat kemelekan finansialnya, antara lain: akuntansi, investasi, pemahaman mengenai pasar, dan regulasi (hukum). Apabila kita memahami ilmu-ilmu ini dan menerapkannya, besar kemungkinan financial freedom bisa lebih mudah diraih.

6. Permasalahan yang mungkin menghadang untuk mewujudkan financial freedom, antara lain: ketakutan, kesinisan, kemalasan, kebiasaan buruk, dan kesombongan. Di buku ini dijelaskan cara untuk menghadapinya. Namun, karena terlalu panjang, alangkah baiknya Juragan baca sendiri yaa..

7. Sepuluh kekuatan untuk mewujudkan financial freedom, antara lain:
a.  Power of spirit: harus disertai dengan semangat yang kuat untuk mewujudkannya.
b. Power of choice: senantiasa menambah pengetahuan dan skill sehingga dalam setiap pemilihan mampu menghasilkan keputusan terbaik.
c. Power of association: senantiasa bangun dan perluas jaringan pertemanan dengan orang-orang yang positif.
d. Power of learning quickly: mengasah kemampuan belajar sehingga bisa menjadi pribadi yang lebih adaptif dan memahami sesuatu dengan cepat.
e. Power of self-discipline: harus selalu mendisiplinkan diri terutama dalam hal pengaturan uang. Harus berusaha untuk mengurangi pengurangan, mengurangi liabilities, menambah asset, dan menambah income. Gunakan prinsip "Pay yourself first".
f. Power of good advice: tidak menjadi orang yang abai, tapi harusnya lebih sering mendengarkan nasehat, saran, dan rekomendasi yang membangun dari orang lain.
g. Power of getting something for nothing: seorang investor tidak hanya melihat dari sisi ROI, tapi juga sisi yang lain. Pelajari cerita McDonalds.
h. Power of focus: tetap fokus pada tujuan awal dan permainan.
i. Power of myth: menemukan pahlawan dan role model
j. Power of giving: apabila kamu menginginkan sesuatu, berikanlah sesuatu. Misal, ingin mendapatkan uang, berikan dulu uang yang kamu punya, niscaya kamu akan mendapatkan yang kamu inginkan.

Berikut tadi merupakan review singkat dan poin-poin penting yang saya highlight dari buku "Rich Dad Poor Dad". Semoga bermanfaat. Terima kasih dan selamat membaca!

No comments:

Powered by Blogger.