Kasus Keuangan : Asuransi Jiwasraya (Kasus Gagal Bayar 16 Trilyun)


Halo, Gan. Kali ini saya ingin coba sharing tentang kasus asuransi Jiwasraya yang sedang hangat-hangatnya dibahas oleh publik. Kasus ini menurut saya sangat horor karena kasus ini bisa mengguncang perekonomian Indonesia (apabila ada efek domino). Check this out!!

Selayang Pandang Asuransi
Polis: perjanjian antara nasabah asuransi dan perusahaan asuransi
Pemegang polis: nasabah asuransi yang telah menandatangani polis sehingga dia terikat oleh kontrak dan kewajiban 
Premi: sejumlah uang yang dibayarkan oleh pemegang polis dimana besaran dan frekuensi pembayaran sesuai dengan polis berlaku
Klaim: tuntutan seorang pemegang polis terhadap perusahaan asuransi untuk pembayaran santunan sesuai dengan pasal di polis. 

Inti dari kegiatan asuransi adalah transfer resiko dari pemegang polis ke perusahaan asuransi. Sehingga saat terjadi suatu peristiwa yang tidak dikehendaki, pemegang polis tidak ikut terdampak peristiwa tersebut. Misal, asuransi kesehatan. Nasabah hanya perlu membayar sejumlah premi, apabila nasabah jatuh sakit, nasabah tidak perlu merogoh kocek lebih dalam lagi karena biaya pengobatan akan ditanggung oleh perusahaan asuransi.

Bagaimana asuransi bisa untung? Ada beberapa model bisnis dalam industri asuransi yang selama ini diterapkan. Pertama, selisih antara premi yang dibayarkan dengan klaim. Misal, 1 juta orang ikut asuransi mobil, tidak seluruhnya akan mengajukan klaim. Ada selisih antara premi dan klaim. Kedua, dari keuntungan investasi. Perusahaan asuransi yang telah mendapatkan premi dan selama premi belum diklaim, bisa menggunakannya untuk berinvestasi di pasar uang maupun pasar modal. Tentunya namanya kegiatan investasi pasti ada risiko, apabila tidak bijak bisa boncos.

PRAHARA JIWASRAYA
Sejarah Singkat
Jiwasraya merupakan perusahaan asuransi tertua di Indonesia yang didirikan di era Hindia Belanda tepatnya pada 31 Desember 1859. Lalu, ketika program nasionalisasi dilakukan pada tahun 1957, Jiwasraya resmi berstatus perusahaan milik negara. Namanya berubah-ubah di awal nasionalisasi dan baru menggunakan nama Jiwasraya sejak tahun 1966. Secara sejarah dan status perusahaan, Jiwasraya ini bisa dibilang sangat aman ya. Punya sejarah panjang artinya perusahaan ini kredibel dan dipercaya oleh masyarakat. Selain itu, perusahaan ini juga berstatus BUMN. Namun, ternyata itu semua bukan jaminan.

Kasus Pertama Terkuak
Kebobrokan Jiwasraya yang sebenarnya sudah tercium sejak era Presiden SBY, akhirnya muncul lagi saat ratusan pemegang polis dari beberapa negara melaporkan adanya keterlambatan pencairan klaim sebesar 802 milliar rupiah atas produk JS Saving Plan. Pencairan klaim yang sejatinya jatuh tempo pada 6 Oktober 2018, ternyata belum bisa dicairkan setelah 1 bulan jatuh tempo (bahkan hingga sekarang), padahal aturannya maksimal 1 bulan. Akhirnya, Jiwasraya mengumumkan ke publik bahwa terjadi gagal bayar untuk produk JS Saving Plan. Karena gagal bayar ini, banyak WNA (Korsel dll) yangg nasib klaimnya tidak jelas hingga kini. Bahkan, bos Samsung Indonesia pun jadi korban hingga membuat aduan ke DPR.

*Sekilas tentang produk JS Saving Plan
JS Saving Plan merupakan produk Jiwasraya yang dijual melalui beberapa bank (bancassurance), antara lain BRI, BTN, KEB Hana Bank Indonesia, DBS Indonesia, ANZ Indonesia, QNB Indonesia, Standard Chartered Bank, dan Bank Victoria International pada tahun 2013. Produk ini meliputi proteksi kecelakaan selama 5 tahun (2013-2018) dan investasi jatuh tempo 1 tahun (bisa diperpanjang per tahun hingga 5 tahun). Untuk investasi, JS Saving Plan ini ditawarkan kepada nasabah dengan janji return 6.5%-13% nett/tahun. Berbeda dengan produk unit link yang umumnya return investasinya tidak pasti dan jadi tanggung jawab pemegang polis, return investasi dari produk JS Saving Plan dijamin sepenuhnya oleh Jiwasraya. Seems legit! Produk ini menyasar golongan menengah ke atas, preminya berkisar 100 juta hingga 5 milliar rupiah. Selama 2013-2018, JS Saving Plan sendiri telah menjadi sumber premi terbesar Jiwasraya (> 50% premi berasal dari produk ini).

Kebusukan Terbongkar
Aroma kebusukan manajemen Jiwasraya tercium ketika Direktur Utama Jiwasraya yang baru, Asmawi Syam, pada Mei 2018 melaporkan dugaan adanya kesalahan dalam laporan keuangan tahun 2017 unaudited. Akhirnya, laporan keuangan diaudit oleh auditor independen. Salah satu kebohongan besar yang ditulis di laporan keuangan unaudited tahun 2017 adalah terkait laba bersih. Kala itu, laba bersih perusahaan dinyatakan sebesar 2.4 T. Setelah dilakukan audit ternyata laba hanya sebesar 300-an M. Dalam laporan keuangan 2017 audit, dijelaskan ada banyak penurunan kinerja dari tahun 2016 seperti utang membengkak, aset turun, dan solvabilitas (RBC) yang hanya 123% (ambang 120%) turun dari tahun 2016 sebesar 200%.

Hingga saat ini, pihak Jiwasraya belum pernah menerbitkan laporan keuangan sejak laporan keuangan 2017. Lapkeu merupakan hal yang sangat penting untuk mengukur kinerja dan kesehatan perusahaan. Tanpa ada itu, seharusnya operasional perusahaan keuangan yang menjaring nasabah seperti asuransi di-stop.

Kondisi Terkini Jiwasraya
Bagaimana status aset dan utang di Jiwasraya saat ini? Dikutip dari CNBC, saat dilakukan Rapat Dengar Pendapat dengan DPR ternyata aset dan utangnya menunjukkan bahwa perusahaan ini sedang sangat sakit. Per kuartal 3 2019, posisi asetnya ada di sekitar 25 T saja, sedangkan utang mencapai 50 T. Artinya, ekuitas/modalnya negatif 25 T. Untuk tahun 2019 saja, Jiwasraya sedang menghadapi permasalahan gagal bayar sebesar 12.4 T.

*Untuk yang awam tentang aset dan utang
Aset adalah segala hal bernilai yang dimiliki oleh perusahaan seperti gedung, kas, tanah, saham, reksadana, obligasi, deposito, dll. Utang adalah tanggungan yang harus dibayarkan oleh perusahaan kepada pihak lain. Untuk perusahaan asuransi, tanggungan klaim nasabah itu dianggap sebagai utang.

Modal negatif Jiwasraya artinya apa? Saat semua aset dijual (dilikuidasi), masih belum cukup untuk membayar utang-utang Jiwasraya ke pemegang polis. Pemegang polis yang seharusnya menerima uang sebesar premi + pengembangan investasi, malah bisa gigit jari merana karena rugi.

Posisi Keuangan Jiwasraya 2017-2019 Q3
Bisakah kamu bayangkan seberapa horornya kasus Jiwasraya? Pemegang polis Jiwasraya jumlahnya mencapai ribuan orang. Tujuan mereka berasuransi pun beragam dari dana pendidikan anak, pensiun, kesehatan, dll. Tentunya dengan kasus ini, kehidupan mereka bisa jadi terganggu. Uang yang dikumpulkan dengan kerja keras dan seharusnya bisa mereka nikmati sesuai tujuannya malah mungkin berakhir kerugian. Kalau kita lihat secara nominal, kasus ini sangat besar. Ekuitas minus 25 T artinya ada uang pemegang polis yang hilang sebesar 25 T. Kemanakah uang para pemegang polis ini? Apa penyebabnya hingga Jiwasraya sampai begini?

Penyebab
Berbicara penyebab bobroknya Jiwasraya tidak bisa semudah itu. Angka minus 25 T ini tidak mungkin hilang secara tiba-tiba. Pun tidak mungkin disebabkan hanya karena 1 kebijakan. Kebobrokan Jiwasraya ini sebenarnya terjadi sudah lama, bertahun-tahun dan ada banyak kesalahan yang terjadi. Penyebabnya antara lain:

1. Kesalahan penetapan harga polis.
Produk asuransi Jiwasraya dikeluarkan dengan janji return yang cukup tinggi dari angka 6%-11%/tahun nett. Selain return tinggi, tenor asuransi pun cukup pendek hanya 1 tahun. Bisa kamu bayangkan dengan return sebesar 6-11%/tahun, tentunya manajemen harus "menaruh" uang para pemegang polis ke produk investasi dengan return tinggi, seperti: saham dan reksadana saham. Padahal, saham adalah produk investasi jangka panjang. Ini tidak cocok dengan tenor produk yang hanya 1 tahun. Saya menduga sebenarnya produk ini tidak pernah mendatangkan keuntungan, dan klaim nasabah lama diambil dari premi nasabah baru, semacam ponzi scheme.

Kepada OJK, ijinkan saya bertanya. Apabila Reksadana Minna Padi yang menjanjikan return tetap saja dibubarkan pada November 2019 lalu, mengapa  produk return tetap dari Jiwasraya yang notabene bukan manajer investasi, hanya perusahaan asuransi, bisa beredar selama bertahun-tahun? Padahal sudah jelas, investasi/asuransi harus mengikuti underlying assetnya. Apabila underlying assetnya saham/reksadana saham, maka tidak mungkin bisa menjanjikan return tetap.

2. Pengelolaan investasi yang serampangan
Alasan ini menurut saya alasan terkuat mengapa Jiwasraya bisa sesakit ini. Ada banyak sekali kesalahan investasi yang telah dilakukan oleh Jiwasraya selama bertahun-tahun, setidaknya selama 2008 - 2018 saat Hendrisman Rahim menjabat. Kesalahan investasi itu antara lain:

a. Terjadi beberapa transaksi repo saham yang merugikan Jiwasraya selama 2008-2013.
Repo saham itu begini,
Misal, saya punya saham A 5 juta lembar seharga 1,000 (nilainya = 5M). Lalu, saya ingin pinjam uang ke Jiwasraya sebesar 5 M. Maka saya tinggal agunkan saja saham yang saat itu nilainya 5 M kepada Jiwasraya sebagai jaminan untuk nanti saya tebus. Nah tapi muncul persoalan disini, saya bisa saja tidak membeli kembali saham yang telah agunkan. Ya, kalo nilai sahamnya jadi turun, ngapain saya tebus? 
Itu yang terjadi pada Jiwasraya. Jiwasraya membeli saham secara sembarangan dan apesnya si peminjam uang tidak mau membeli lagi saham yang telah dijual ke Jiwasraya. Saham yang direpo Jiwasraya pun jenis saham gorengan. Kerugian akhirnya berdatangan seiring dengan turunnya harga.

b. Portofolio investasi yang ngaco
Dalam menempatkan dana dari pemegang polis, Jiwasraya bisa dibilang sangat tidak hati-hati dan cenderung ngasal. Mungkin ada conflict of interest (?). Dari portofolionya tampak apabila 75% dana ditempatkan di paper asset (saham, obligasi, RD). Sisanya 25% ditempatkan di asset tidak lancar seperti properti dan tanah.
Paper assetnya bisa dibilang cukup ngaco, dimana lebih dari 50% ditempatkan di instrumen reksadana. Tidak balance sama sekali. Manajer investasi yang dipakai pun juga bukanlah top tier manajer investasi. Berdasarkan penelusuran Kejagung, 98% manajer investasi yang digunakan Jiwasraya merupakan MI berkualitas buruk yang rajin bermain saham gorengan.

Obligasi yang dibeli oleh Jiwasraya juga bisa dibilang nggak jelas. Jiwasraya sering membeli obligasi yang memiliki rating rendah. Jiwasraya pernah memborong obligasi korporasi sebesar 680M dari PT Hanson International (MYRX). Saat banyak pilihan obligasi kenapa pilih Hanson ya? Tau kan siapa dirut PT Hanson? Dia adalah sang "maestro" bursa saham Indonesia yaitu Benny Tjokrosaputro alias BenTjok. Kenapa saya sebut maestro? Yang pemain saham gorengan pasti paham lah haha. Menurut salah satu media, kabarnya hubungan BenTjok dan Dirut Jiwasraya Hendrisman Rahim cukup dekat.

Setali tiga uang dgn reksadana dan obligasi, investasi Jiwasraya di saham juga bisa dibilang ngasal. Saham-saham yang dibeli Jiwasraya selama ini masuk kategori saham gorengan/saham third liner/saham sampah/junk stocks. Pada tahun 2012-2014, Jiwasraya pernah memiliki saham Trada Minera (TRAM) sebanyak 5%. Ini salah satu saham yang dimiliki Jiwasraya karena repo. Kita ketahui bahwa harga saham TRAM saat ini parkir di 50. Selain TRAM, Jiwasraya pernah beli MTFN, ABBA, IIKP, SMRU.



Saat ini hanya ada 2 saham yang dimiliki oleh Jiwasraya yang kepemilikannya lebih dari 5% yaitu SMBR dan PPRO. Dua-duanya dibeli di harga yang tinggi (PPRO Rp 250-300/lembar, SMBR Rp 1500-4000/lembar). Per hari ini, harga PPRO Rp 74/lembar, SMBR Rp 438/lembar.




Sebagai perusahaan BUMN, Jiwasraya tidak diperkenankan untuk cutloss. Cutloss sama artinya pelanggaran yang merugikan negara. Mungkin ini juga yang jadi sebab, mereka membiarkan portofolio terus turun. Padahal kalau bisa cutloss, mungkin kerugian mereka tidak sedalam ini. Sebenarnya peraturannya cukup karet, tapi sudah banyak kasus direksi BUMN yang terjerat karena kesalahan investasi.

Sampai di poin ini, saya ingin bertanya pada OJK. Dimanakah peran OJK saat para direksi Jiwasraya berinvestasi di instrumen yang high risk (junk stocks) selama bertahun-tahun? Tidak kah ada mekanisme pengawasan dari OJK? Kalau tidak ada, lantas fungsi OJK sebenarnya apa?

3. Rekayasa Laporan Keuangan dan Praktik Window Dressing
Kebobrokan Jiwasraya juga disebabkan kurang berintegritasnya para direksi pada periode sebelumnya. Mereka melakukan rekayasa laporan keuangan, juga melakukan window dressing agar tampak bahwa perusahaan mereka sedang baik-baik saja. Rekayasa laporan keuangan Jiwasraya akhirnya terbongkar pada Mei 2018 lalu, ketika direktur baru melakukan audit menggunakan auditor independen. Hasil audit pada tahun 2017 menyatakan posisi keuangan Jiwasraya hanya sedikit di atas ambang "sehat". Window dressing juga dilakukan kemungkinan pada reksadana dan saham mereka. Di reksadana, JS menggunakan manajer investasi yang abal-abal, sehingga sangat rentan sekali terhadap praktik window dressing agar lapkeu bisa tampak baik.
Tapi hukum alam pasti bekerja, sebagaimanapun usaha kita utk menyulap aset agar tampak lebih baik (dengan menaikkan harga), harga aset pasti akan kembali ke harga wajarnya. Begitulah yang terjadi di Jiwasraya. Semua aset yang dibeli harganya jatuh dan sekarang kembali ke harga wajarnya 

SOLUSI KASUS GAGAL BAYAR JIWASRAYA
Setelah kasus gagal bayar ini, mulai muncul beberapa wacana solusi yang bisa dilakukan:
1. Bailout Jiwasraya
Dikarenakan modal yang negatif, Jiwasraya mengajukan permintaan bailout/dana talangan sebesar 32,89 T. Dana itu diperlukan utk mengembalikan solvabilitas sesuai aturan berlaku. Bisa kamu bayangkan seberapa besar bailout 32T? Apabila ini terjadi, kasus ini akan lebih besar berkali lipat dari kasus Century. Kasus Century yang bailout hanya 6T saja, berlarut-larut dan tidak jelas ujungnya dimana, apalagi ini bailout 32 T.
Saya harap kita semua menolak solusi ini. Bukan saya tidak peduli dengan korban Jiwasraya, tetapi maaf saya sudah hilang kepercayaan pada pemangku jabatan, terutama yang menyangkut uang. Jika solusi ini diambil, saya pikir akan terjadi "bancakan massal" seperti kasus BLBI dan Century dulu. Selain itu, jika tiap ada kasus BUMN langsung bailout, takutnya akan jadi kebiasaan di masa depan. Sampai saat ini, sikap pemerintah adalah tidak melakukan bailout pada Jiwasraya. Mari kita kawal sikap pemerintah ini!!

2. Perbaikan Jiwasraya melalui Jiwasraya Putera
Pemerintah berencana membentuk anak perusahaan Jiwasraya untuk melanjutkan usaha di bidang asuransi. Anak perusahaan ini rencananya akan dibantu oleh beberapa BUMN dan juga akan dibuka investor secara B2B. Solusi ini menurut saya cukup bagus, namun karena ini perusahaan baru sepertinya butuh waktu lama agar perusahaan ini bisa dipercayai oleh publik. Untuk mengembalikan aset 32 T juga tidak mudah, pasti butuh waktu lama. Apakah para pemegang polis yang sudah jatuh tempo siap menunggu?

Apapun solusi yang diambil pemerintah, saya berharap pemerintah melakukan reformasi besar-besaran pada industri asuransi di Indonesia. Pemerintah wajib melakukan pengawasan ketat pada produk asuransi yang menjanjikan return tinggi serta pengawasan penempatan dana asuransi. Tanpa itu, kejadian Jiwasraya akan terus berulang di perusahaan lain hingga ujung-ujungnya merugikan pemegang polis. Sebenarnya pemerintah punya lembaga yang bertugas mengawasi jasa keuangan (asuransi, investasi, bank) yaitu OJK. Tapi jujur saja, kerja lembaga ini perlu dievaluasi lagi karena sudah banyak contoh kasus dimana OJK ini tampak kecolongan dan kurang berguna.

PELAJARAN DARI KASUS JIWASRAYA
Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari kasus Jiwasraya ini, antara lain:
1. Jangan mudah tergiur iming-iming janji return dari para agen asuransi.
Agen asuransi yang baik itu mengedukasi, bukan hanya jualan janji. Para agen akan terus bermulut manis agar kamu tandatangan polis, karena mereka juga dapat komisi yang besarannya lumayan. Jika sistem pembayaran preminya per bulan, biasanya komisi yang diterima bisa sekitar 30% dari premi (komisinya biasanya hanya 2 tahun sejak daftar). Jika sistem pembayaran preminya sekali di awal, biasanya komisi yang diterima bisa sekitar 1-10% dari premi. Tiap asuransi memiliki kebijakan berbeda tentunya. Yang bisa kamu jadikan pertanyaan saat ditawari asuransi dengan janji return tinggi adalah "Bagaimana strategi perusahaan utk mendapatkan return segitu? Penempatan dananya dimana saja?"

2. Berasuransi bukan untuk investasi
Sekarang ini produk unit link dari beberapa perusahaan asuransi sangat booming. Melalui produk ini kamu bisa asuransi sekaligus investasi. Simpel dan instan. Tapi, apa iya unit link semenarik itu? Dari Jiwasraya kita belajar, apabila perusahaan asuransi tidak prudent dalam mengelola uang nasabah, bukan untung yang diraih melainkan kehancuran. Gunakanlah asuransi sebagai fungsi awalnya yaitu proteksi. Saran saya, ikuti asuransi yang memang murni tanpa embel-embel investasi. Asuransi dengan tujuan khusus, seperti: kesehatan, kecelakaan, jiwa menurut saya lebih powerful. Untuk investasi, lakukanlah sendiri. Atau jika tidak paham, anda bisa membeli reksadana (tapi pilih manajer investasi yang bagus lho ya). Dengan begitu, asuransi jalan, investasi jalan.

*Tulisan ini bukan dari sumber primer, melainkan dari berita-berita yang saya compile agar mudah dipahami, sehingga ke depannya kita bisa belajar dari kasus Jiwasraya ini. Dirangkum dari berbagai sumber/media @TirtoID @TabloidKontan @KATADATAcoid @teguhidx @cnbcindonesia @CNNIndonesia @liputan6dotcom

No comments:

Powered by Blogger.