Pelajaran Penting dari Pasar Saham yang Crash di Tahun 2020

Hallo, Gan. Apa kabar? Bagaimana kondisi investasimu sekarang? Apakah masih aman? Atau malah sedang loss puluhan persen? Semoga baik-baik saja ya. Saat ini, kita, para investor dan pelaku bisnis, sedang mengalami ujian yang lumayan berat. Wabah corona dan jatuhnya harga minyak dunia menjadi dua pukulan telak bagi kita, para pelaku ekonomi. Menurut saya, dua pukulan telak inilah yang menyebabkan peristiwa pasar saham yang crash di seluruh dunia pada awal tahun 2020 ini. $IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sendiri mengalami penurunan (top-bottom) sekitar 38% dalam waktu kurang dari 1 bulan, sementara YTD 2020 di posisi -27% (setelah 2 hari kemarin 26-27 Maret 2020 mengalami rally 15%). Apakah mungkin IHSG jatuh lebih dalam lagi di masa depan? Lets's see.
IHSG per 27 Maret 2020
Jujur, ini pengalaman pertama saya mengalami stock market crash. Aset saham saya pun mengalami floating loss yang lumayan juga. Ya walaupun investasi secara keseluruhan tidak sampai turun drastis, tapi cukup terasa lah bagaimana pahitnya fenomena crash bursa saham ini. Sebagai catatan pribadi, saya ingin menuliskan beberapa hal yang bisa jadi pelajaran bersama atas terjadinya peristiwa stock market crash kali ini. Check this out!!

1. SAHAM MERUPAKAN ASET HIGH RISK-HIGH RETURN
Peristiwa market crash ini dapat menjadi bukti shahih bahwa instrumen saham punya karakter high risk-high return. Banyak orang/institusi yang promosi ke investor awam kalau investasi saham itu gampang, risiko kecil asal tau ilmu, dll. Kenyataannya tentu tidak begitu. Saham mengandung risiko tinggi. Dari risiko kebangkrutan perusahaan, likuiditas, hingga volatilitas adalah risiko yang tak bisa dipisahkan saat berinvestasi saham. Saat ini $IHSG sudah sama dengan kondisi $IHSG tahun 2015 (berpotensi lebih buruk).  Saya yakin sebagian besar orang yang investasi di antara tahun 2015-2019 saat ini dalam posisi floating loss (capital) jika mereka belum merealisasikan keuntungannya. Artinya, risiko volatilitas itu memang nyata. Kita bisa mengalami drawdown investasi puluhan persen saat berinvestasi di pasar saham. Fakta baiknya, selama berpuluh-puluh tahun melalui berbagai krisis, pasar saham selalu mengalami recovery. Krisis 1998 dan 2008 yang cukup parah dan bisa membuat aset minus >50% pun mampu dilewati dan bahkan $IHSG terus tumbuh berkali lipat.

Selain berbagai cerita pahit tentang krisis, krisis juga bisa menjadi peluang. Sudah banyak cerita nyata tentang krisis yang melahirkan orang kaya/miskin baru. Di kala krisis, kita sangat mudah menjumpai perusahaan yang dijual "sangat murah". Misal saja, perusahaan profitable tapi hanya dihargai 0.1x dari nilai bukunya. Jika ekonomi kembali ke semula dan harganya kembali ke fair value, ada peluang return berkali-kali lipat (multibagger). Oleh karena itu, kala wabah corona yang makin meluas dan dampaknya makin besar, mari kita sebagai investor saham mengubah pertanyaan "Apakah ini waktu yang tepat untuk masuk/avg down?" menjadi "Apakah perusahaan yang akan/sedang diinvestasikan bisa survive melewati krisis ini?". Karena sesungguhnya floating loss itu bukan permanent loss. Permanent loss itu ketika emitenmu bangkrut atau kamu merealisasikan kerugianmu.

2. ALOKASI ASET ADALAH KUNCI
Di kala market crash seperti ini alokasi aset adalah kunci. Yang skrg asetnya sebagian besar di saham mungkin saat ini sedang panik dan berharap $IHSG tidak turun lagi. Yang asetnya mostly cash, mungkin harapannya beda lagi, kalo bisa turun ke gocap ya ke gocap. Bayangkan saja jika 100% dana ditaruh saham, mungkin sekarang asetnya sudah floating loss puluhan persen. Untuk menghindari drawdown yang besar seperti ini, maka diperlukanlah diversifikasi aset. Diversifikasi artinya membagi kekayaan ke beberapa kelas aset. Selain mengurangi risiko (drawdown), diversifikasi juga bisa berguna sebagai dry powder. Market crash seperti ini adalah opportunity yang jarang terjadi. Dengan masih adanya aset selain saham, kita masih bisa membeli saham perusahaan bagus di harga yang murah (rebalancing).

Saya pernah membahas sekilas tentang kelas aset dan contoh alokasi asset ala Ray Dalio yang disebutnya All-Weather Portfolio di tulisan berikut.
Baca: 5 Kelas Aset dan Alokasi Aset

3. SELALU GUNAKAN UANG DINGIN
Uang dingin bukan maksudnya uang yang ditaruh di dalam kulkas ya. Maksudnya uang dingin adalah uang pribadi yang nganggur. Uang dingin juga bukanlah uang hasil berutang. Melainkan, uang milik pribadi yang sekiranya tidak akan digunakan dalam waktu minimal 3 tahun. Jadi misalkan ada kebutuhan dalam jangka waktu 3-5 tahun, ya saran saya jangan dimasukkan di saham. Nggak lucu kan kalo rencana hidup jangka pendek seperti menikah, bangun rumah, lanjut studi, dll bisa terhambat karena pasar saham yang crash. Jujur saya agak ngeri juga baca cerita di medsos tentang beberapa investor yang dikejar-kejar sama sekuritas karena pake margin (utang). Aset mereka pun juga banyak yang di forced sell. Saat bursa hancur, investasi pake margin jelas hanya menambah derita.

4. BELAJAR, BELAJAR, BELAJAR
Momen crash seperti ini menyadarkan kita untuk tidak pernah berhenti dalam belajar. Semua analisa fundamental/teknikal tidak bekerja di kondisi market crash seperti ini. Apakah artinya selama ini analisa fundamental/teknikal hanya tipu-tipu? Tentu saja tidak. Analisa fundamental/teknikal telah terbukti berpuluh tahun mampu mendatangkan cuan. Analisa kita saja yang harus terus dipertajam dan diasah, terutama dalam memprediksi fenomena "black swan".

Sebagai penganut value investor, jujur saya telah melakukan kesalahan dengan terlalu meremehkan wabah corona. Data & fakta tidak ada yang berubah, case meninggal sebagian besar orang yang sudah punya penyakit bawaan + berumur 60 tahun ke atas. Mortality rate secara umum di dunia di angka 4%. Tapi ternyata saya salah dalam memprediksi penyebaran dan dampak corona ini. Dampak wabah corona ini ternyata sangat parah. Ini tentunya jadi pembelajaran bagi saya untuk menganalisa lebih tajam dan dalam lagi ke depannya. Peristiwa crash ini juga menjadi pembelajaran bagi saya untuk memperluas kemampuan analisa fundamental saya. Jika sebelumnya saya hanya melihat dari sisi mikroekonomi, sekarang saya mulai belajar tentang makroekonomi.

No comments:

Powered by Blogger.