Apa Penyebab Rupiah Anjlok di Tahun 2020?


Dollar di bawah 10 ribu rupiah
BACKGROUND & KONDISI
Selama beberapa waktu terakhir, headline bahwa Rupiah yang melemah terhadap USD terus menghiasi media. Buzzer dari oposisi mencoba menggoreng isu ini. Buzzer pro istana mencoba membela diri dengan bilang peristiwa ini adalah efek wabah corona. Bagaimana fakta sebenarnya? Mari kita bedah.

Seperti yang kita ketahui memang Rupiah terus melemah. Saat ini bahkan sudah berada di atas 16.000/USD (pernah di 17.000). Di ASEAN sendiri, saat ini Rupiah bisa dibilang yang PALING LEMAH di antara negara yang sekelas. Berikut ini simulasi Rupiah vs Ringgit (MYR), Baht (THB), Dong (VND) sejak tahun 2017, 2018, 2019, 2020.
Perbandingan IDR, MYR, THB, VND sejak tahun 2017
Perbandingan IDR, MYR, THB, VND sejak tahun 2018
Perbandingan IDR, MYR, THB, VND sejak tahun 2019
Perbandingan IDR, MYR, THB, VND sejak tahun 2020
Sejak awal tahun 2020 saja, Rupiah telah melemah sekitar 18% dari USD. Dari fakta-fakta di atas, cukup jelas apabila Rupiah memang kalah kuat dari mata uang Malaysia, Thailand, Vietnam. Apakah negara-negara ini bebas dari efek wabah corona? Tentu tidak. Artinya, ada sesuatu yang kurang beres pada fundamental ekonomi Indonesia yang menyebabkan Rupiah terus melemah. Mari kita bahas.

PERMINTAAN & PENAWARAN
Seperti kata Bu Sri Mulyani, segala sesuatu di dunia ini sebenarnya bisa dijelaskan dengan hukum permintaan & penawaran. Contoh; saat ini harga masker melonjak drastis, ini disebabkan oleh permintaan yang tinggi, sementara supply terbatas. Hukum permintaan & penawaran ini berlaku juga di mata uang. Ketika suatu mata uang melemah artinya jumlah permintaan mata uang tersebut kecil sedangkan penawaran lebih banyak, vice versa. Rupiah pun begitu. Jika Rupiah melemah artinya yang "meminta" rupiah lebih sedikit daripada yang "melepasnya". 

Darimana kita bisa memahami permintaan & penawaran Rupiah terhadap kurs asing? Jawabannya adalah pada Balance of Payment (Neraca Pembayaran). BoP merupakan record yang dapat digunakan untuk memonitor aliran uang (inflow/outflow asing). BoP dapat jadi penjelas atas perilaku Rupiah.  Mari kita bedah bersama-sama bagaimana Neraca Pembayaran Indonesia!

Baca Juga: Membaca Balance of Payment (Neraca Pembayaran)

BALANCE OF PAYMENT (NERACA PEMBAYARAN)

Pada tahun 2019, Indonesia mencatatkan surplus neraca pembayaran sebesar 4.68 milliar USD. Dengan rincian,
-Current Account: -30.4 milliar USD
-Financial Account: +36.3 milliar USD
-Fakto error dan omission: -1.2 milliar USD
Apakah surplus BoP Indonesia ini bagus? Eitsss. Tunggu dulu......
Detail Neraca Pembayaran Indonesia 2017-2019

CURRENT ACCOUNT (NERACA TRANSAKSI BERJALAN)
Setelah tahun 2011, Indonesia belum pernah merasakan lagi yang namanya current account surplus hingga kini. Sudah 8 tahun berturut-turut 2012-2019, Indonesia mengalami Current Account Deficit (CAD).
Current Account Indonesia tahun 2012-2018 yang defisit
Current Account Deficit artinya apa? Artinya, kemungkinan Indonesia lebih banyak impor daripada ekspor (barang & jasa). Atau juga bisa berarti lebih banyak income (pendapatan) yang lari dari Indonesia daripada income yang masuk. Bagaimana anatomi CAD Indonesia?

a. Neraca Perdagangan
Neraca Perdagangan Barang & Jasa Indonesia cenderung naik turun bergerak mengikuti siklus. Yang biasanya jadi sumber defisit neraca perdagangn Indonesia adalah transaksi ekspor-impor migas dan perdagangan jasa. Apabila suatu negara lebih banyak mengekspor maka negara tersebut menghasilkan uang asing lebih banyak sehingga supply mata uang asingnya meningkat, efeknya bisa memperkuat mata uang negara tersebut.  Sebaliknya, apabila suatu negara lebih banyak impor artinya permintaan mata uang asing meningkat (karena namanya impor pasti beli pakai mata uang asing), efeknya bisa memperlemah mata uang negara tersebut.
Neraca Perdagangan Barang & Jasa Indonesia (Sumber: CNN Indonesia)

Tapi, taukah kamu sebenarnya yang jadi duri dalam daging di kasus defisitnya neraca transaksi berjalan Indonesia sebenarnya bukanlah neraca perdagangan barang & jasa, melainkan akun PRIMARY INCOME (Pendapatan Primer) seperti ditunjukkan oleh gambar di bawah.
Anatomi Neraca Transaksi Berjalan

b. Primary Income
Dari data yang disajikan BI, antara tahun 2017-2019 Indonesia secara konsisten mengalami defisit > 30 milliar USD dari akun Primary Income. Beginilah sekiranya anatomi Current Account Indonesia pada tahun 2019 yang mengalami defisit. Tampak bahwa yang membuat CAD begitu besar adalah akun perdagangan jasa dan akun PRIMARY INCOME.
Anatomi CAD 2019 (Sumber: Tulisan Pak Faisal Basri)
Primary income yang defisit artinya income atas kegiatan ekonomi lebih banyak yang lari ke luar negeri daripada yang masuk. Contoh primary income: keuntungan perusahaan, bunga utang/obligasi.

Berikut tabel primary income pada current account Indonesia antara tahun 2017-2019:
Tabel Current Account bagian Primary Income
Pada tabel di atas, tampak apabila sebagian besar defisit di akun Primary Income disebabkan oleh pembayaran:
1. Keuntungan perusahaan asing (repatriasi)
2. Pembayaran bunga utang (obligasi, sukuk, dll) ke asing. Trend pembayaran bunga utang yang semakin besar sesuai dengan kondisi utang Indonesia (baik goverment atau swasta) yang juga terus naik. Utang makin besar, maka bunga utang yang harus dibayar juga makin besar.

Dari pembahasan terkait CAD, kita memahami bahwa Indonesia telah mengalami CAD selama 8 tahun berturut-turut yang penyebab utamanya adalah primary income (repatriasi keuntungan dan pembayaran bunga utang). Fenomena CAD artinya valas yang keluar lebih banyak daripada yang masuk. Indonesia tekor. Mengapa kondisi CAD harus diatasi? Kondisi CAD bisa melemahkan rupiah. Karena,
-makin banyak impor, maka permintaan valas naik, sehingga kurs valas cenderung menguat.
-makin banyak pendapatan yang ke luar dari negara, maka supply valas turun, sehingga kurs valas cenderung menguat.

Lalu, bagaimana Indonesia mengatasi ketekoran selama ini? Indonesia mengatasi CAD dengan mengandalkan FINANCIAL ACCOUNT yang surplus.

FINANCIAL ACCOUNT
CAD Indonesia yang terjadi sejak tahun 2012 hingga kini "ditomboki" oleh financial account yang positif. Artinya, modal asing yang masuk ke Indonesia lebih besar daripada modal Indonesia yang ditanamkan di luar negeri. Perhatikan chart financial account di bawah.
Financial Account Indonesia yang selalu positif antara 2014-2019
Bagaimana foreign capital inflow terjadi? Ada beberapa kegiatan yang bisa dibilang mendatangkan modal asing ke Indonesia, antara lain:
- penanaman modal asing (perusahaan asing)
- pembelian obligasi pemerintah/perusahaan domestik
- pembelian saham perusahaan publik/privat domestik, DLL 

Lalu, bagaimana anatomi Financial Account Indonesia? Selama beberapa tahun terakhir, capital inflow asing didominasi oleh direct investment dan portfolio investment dengan porsi mirip. Pada tahun 2019:
Financial Account = +36.3 milliar USD
-Direct Investment = +20 milliar USD
-Portfolio Investment = +21.5 milliar USD
Untuk direct investment (investasi langsung) karena biasanya sifatnya jangka panjang, seperti: pendirian perusahaan asing, saya tidak terlalu risau. Kerisauan saya hanyalah, adanya investasi ini mengakibatkan keuntungan usaha dibawa ke negara asal (repatriasi). Aktivitas seperti ini bisa memperlebar CAD (Current Account Deficit).

Saya jauh lebih risau dengan banyaknya capital inflow dalam bentuk portfolio investment, seperti: pembelian surat utang negara dan pembelian saham publik di BEI oleh asing. Seperti yang kita ketahui, dana atas portfolio investment ini sifatnya easy come, easy go. Dana portfolio investment ini memiliki sifat, mengalir ke tempat-tempat yang "menjanjikan" return tinggi dan menjauhi tempat-tempat berisiko. Easy come, easy go. Makanya disebut hot money. Sayangnya, kondisi saat ini Current Account Deficit (CAD) Indonesia ditomboki oleh hot money ini.

Capital asing yang masuk pada portfolio investment didominasi oleh transaksi pembelian obligasi/utang pemerintah jangka panjang. Ini sesuai dengan kondisi saat ini yaitu pemerintahan era Presiden Jokowi memang "rajin" berutang.

Utang Indonesia yang terus naik sejak 2012
Selain membawa risiko "hot money", portfolio investment ini juga membawa risiko ke CAD yang semakin lebar akibat pembayaran bunga utang ke luar negeri.
Portfolio Investment didominasi oleh Instrumen Utang (Obligasi)
Dari pembahasan financial account yang surplus ini, kita bisa menyimpulkan bahwa CURRENT ACCOUNT DEFICIT INDONESIA SEBAGIAN BESAR "DITOMBOKI" OLEH DANA ASING YANG BERSIFAT HOT MONEY. Saat hot money ini pergi keluar dari Indonesia, tidak usah heran kalo Rupiah ambyar dan melemah. Mau bukti? Buktinya sekarang. Diterpa wabah corona & segala ketidakpastian ekonomi dunia, capital asing outflow (keluar) dari pasar obligasi dan pasar modal Indonesia. Fenomena ini sangat wajar ya, karena Indonesia masih termasuk emerging market (negara berkembang) sehingga dipandang cukup risky oleh investor asing. Investor asing memilih cari aman dengan membeli aset safe haven (emas, valas USD, Yen, Euro, dll). Sebaliknya, apabila nanti Indonesia menerbitkan surat utang lagi, kondisi perekonomian Indonesia membaik, maka dana asing juga akan mengalir ke Indonesia sehingga berimplikasi menguatnya Rupiah.

Menurut data BI, net capital outflow asing YTD (30 Maret 2020) sekitar 141 Trilyun, dengan rincian:
- Obligasi = 131,1 trilyun rupiah
- Saham = 9,9 trilyun rupiah
Akibat dari capital outflow asing dari portfolio investment ini, Rupiah melemah sekitar 18% dari USD secara YTD (30 Maret 2020). Saat penulis membuat tulisan ini, Rupiah berada di angka 16.450/USD (pasar spot).

Lalu, pelemahan mata uang Vietnam, Thailand, dan Malaysia yang juga negara berkembang (emerging market is risky), satu kawasan, dan terkena dampak wabah corona, kok bisa tidak separah Rupiah? Saya berhipotesis, jawabannya adalah di Current Account yang surplus.


Chart Current Account Vietnam, Thailand, dan Malaysia yang Surplus


BOTTOMLINE
Indonesia telah mengalami Current Account Deficit (CAD) selama 8 tahun berturut-turut sejak terakhir kali mencatatkan surplus pada 2011. Defisit pada neraca transaksi berjalan cenderung melemahkan rupiah. Untuk mengatasi CAD agar Rupiah masih bisa stabil, Indonesia mengandalkan capital inflow asing dalam bentuk direct investment dan portfolio investment. Yang perlu diperhatikan adalah ketergantungan Indonesia pada bentuk portfolio investment (terutama pada bentuk pembelian utang & saham). Dana ini memiliki sifat easy come, easy go. Kondisi inilah yang membahayakan Rupiah. Jika dana asing mulai outflow dari Indonesia, Rupiah akan melemah dan jadi sangat tidak stabil. Terbukti ketika wabah corona semakin meluas dan asing mulai melakukan capital outflow sebesar 141 T (YTD 30 Maret 2020), Rupiah langsung melemah tembus di atas 16.000/USD. Untuk menstabilkan kurs, BI pun melakukan sejumlah intervensi. Intervensi berbentuk pembelian utang pemerintah dari asing di pasar sekunder dapat mengurangi cadangan devisa.


3 comments:

  1. Thanks gan artikelnya informatif. Cuma saya jadi mikir aja, kalo begitu yg disebut-sebut oleh LBP soal mengundang investor asing malah memperlemah rupiah kedepannya karena memperlebar CAD yaitu dengan keuntungan yg diperoleh investor asing dibawa pulang ke negara asal atau ditukar ke mata uang negara asalnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul. In a long term, investasi asing dalam bentuk PMA juga menimbulkan risiko melebarnya CAD akibat keuntungan yg dibawa pulang. Saya berpandangan, Indonesia harus mengatasi primary income dulu jika ingin fundamental ekonominya bagus. Dgn jalan mengurangi kebiasaan utang ke luar negeri dan mengurangi perusahaan PMA terutama yg tidak berorientasi ekspor (genjot dan beri stimulus swasta & investor dalam negeri, tingkatkan riset, dll). Pemerintah jgn selalu berpikir ambil shortcut. Harus mulai langkah yg serius utk memperbaiki fundamental ekonomi. CAD minus 8 tahun berturut-turut utk negara berkembang bukanlah pertanda yg bagus.

      Delete

Powered by Blogger.