Kelebihan-Kekurangan (Risiko) Emas

Gambar Emas Batangan
Emas merupakan salah satu aset yang biasa dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Ada yang memiliki dalam bentuk perhiasan, batangan, koin, hingga tabungan. Membicarakan tentang emas sebagai instrumen investasi tidak bisa terlepas dari pembahasan fundamental emas. Pada tulisan sebelumnya, saya telah membahas mengapa emas itu bernilai dan layak dimasukkan dalam portofolio investasi. Kali ini saya ingin membahas kelebihan dan kekurangan emas lebih detail. Apa saja keuntungan-kerugian emas? Apa iya investasi emas sangat menguntungkan? Check this out!!

KELEBIHAN
1. Fundamental dan Return yang Bagus
Emas merupakan aset yang memiliki fundamental bagus. Saya pernah membahas tentang fundamental di tulisan berikut Analisa Fundamental Emas. Kesimpulan analisis fundamental saya tentang emas:
- Emas memiliki nilai intrinsik dari segi unsur material
- Emas telah diterima sebagai standar uang sejak ribuan tahun lalu (kepercayaan masyarakat sudah terlanjur tinggi)
- Selama emas jumlahnya tidak melimpah dan tidak ditemukan teknologi ekstraksi emas yang lebih murah dan efisien, maka emas akan tetap memiliki harga yang cenderung meningkat
- Selama masyarakat luas belum menyepakati lagi suatu barang/material yang bisa jadi alat tukar, emas akan tetap bernilai

2. Aset Safe Haven
Sepanjang sejarah ketika krisis/resesi ekonomi terjadi, emas terbukti dapat menjadi aset safe haven yang baik. Saat suatu negara mengalami krisis/resesi, beberapa aset yang berisiko dan aset yang terkait dengan produktivitas seperti: pasar modal (saham), properti, juga mengalami penurunan. Mengapa bisa begitu? Kita ambil contoh pada instrumen saham. Saat krisis/resesi artinya GDP turun. GDP turun dapat berarti produktivitas di negara itu juga turun yang mengindikasikan penurunan laba perusahaan. Laba perusahaan turun, maka akan menurunkan nilai perusahaan tersebut. Akibatnya, pasar modal kena dampaknya. Selain dari faktor nilai perusahaan, krisis/resesi biasanya mendorong investor untuk menjual aset yang berisiko. Instrumen saham jelas termasuk aset yang berisiko. Di masa krisis/resesi perusahaan besar sekalipun tidak pasti aman dan tetap akan menghadapi risiko default. Oleh karena itu, tidak mengherankan saat krisis/resesi, kita bisa melihat penurunan harga puluhan persen (bisa lebih dari 50%) di pasar modal. Contoh perusahaan besar yang bangkrut saat krisis  adalah Lehman Brothers. Bank yang termasuk top 4 investment bank di US ini mengalami kebangkrutan pada krisis finansial 2008.

Berbeda dengan instrumen saham, emas tidak memiliki risiko default (bangkrut). Risiko emas terbesar ada pada volatilitas harga. Emas diperdagangkan secara global sehingga sangat dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Historically, ketika krisis/resesi terjadi, harga emas cenderung stabil atau setidaknya tidak mengalami penurunan harga puluhan persen, seperti instrumen saham dan properti. Bahkan kadangkala harga emas malah meroket saat krisis/resesi. Oleh karena itu, emas merupakan aset safe haven yang cukup baik untuk menghadapi krisis. Lihat pergerakan harga emas di bawah!
Grafik Harga Emas

3. Instrumen yang Liquid
Emas bisa dibilang merupakan aset yang sangat liquid. Maksudnya, liquid artinya bisa diliquidasi/dikonversi ke uang cash dalam waktu singkat. Karena emas diperdagangkan global, kita bisa menjual dan membeli emas kapanpun (selama waktu perdagangan), sehingga uangnya bisa diterima dalam waktu yang singkat. Kalau nominal masih kecil, sangat mungkin bisa diterima hanya dalam hitungan menit. Saluran penjualan pun juga tersedia banyak. Bisa beli/jual melalui toko emas, butik antam, pegadaian, bahkan ke individu secara langsung.

KEKURANGAN
1. Spread yang Besar
Kekurangan emas yang cukup merugikan adalah spread yang besar. Apa itu spread? Saat kita membeli emas, kita dikenai "harga jual", sedangkan saat kita mau menjual kita dikenai "harga buyback". Selisih antara harga jual dan harga buyback inilah yang disebut spread. Emas dikenal memiliki spread yang paling besar apabila dibandingkan instrumen investasi lain. Contoh beberapa platform jual-beli emas dengan spread-nya:

harga emas di indogold
Harga Emas per gram di Indogold (27 April 2020)
Harga Emas per 0.01 gram di Pegadaian (27 April 2020)
Perhitungan Spread Emas pada posisi harga hari ini (27 April 2020):
- Indogold = (880.858-846.000)/880.858 = 3.9%
- Pegadaian = (8.990-8.630)/8.990= 4%

Spread emas tentunya berubah-ubah sesuai dengan kondisi pasar. Sepengamatan saya, besaran spread emas biasanya di kisaran 3-10%. Dengan adanya spread yang besar ini tentunya cukup merugikan investor. Secara jangka pendek, saat kita beli emas artinya kita sudah floating loss sebesar spread tersebut. Kesimpulannya, dengan adanya spread yang besar, emas kurang cocok dijadikan instrumen investasi jangka pendek.

2. Aset Tidak Produktif
Emas bukanlah aset produktif. Maksudnya, aset tidak produktif adalah aset yang tidak bisa menghasilkan pendapatan secara pasif. Saat memiliki emas, kita tidak akan mendapatkan income apapun. Keuntungan emas hanya berasal dari capital gain (selisih jual-beli). Ini tentunya berbeda dengan aset lain seperti: saham dan obligasi yang keuntungannya selain dari capital gain juga bisa menghasilkan passive income (dividen dan kupon bunga).

3. Dikenai Pajak
Kekurangan emas selanjutnya adalah pajak. Emas jadi salah satu aset yang dikenai pajak. Untuk emas batangan, pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.34/2017 tentang Pungutan Pajak Penghasilan Pasal 22, penjualan emas batangan oleh badan usaha dikenai PPh sebesar 0.45% dari harga jual emas batangan (NPWP) atau 0.90% dari harga jual emas (tanpa NPWP). Untuk emas perhiasan, dikenai PPN sebesar 2% dari harga jual.


4. Risiko Keamanan
Kekurangan emas lainnya adalah terkait keamanan. Dengan membeli emas fisik, entah dalam bentuk perhiasan, batangan, atau koin, ada risiko keamanan yang harus diambil investor. Apalagi jika investor berkeinginan untuk menyimpan dalam rumah, tentunya perlu menyediakan sistem keamanan yang lebih agar terhindar dari tindak kejahatan, seperti: pencurian dan perampokan. Sebagai solusi, investor dapat membeli brangkas (safe deposit box) untuk menyimpan emas fisik yang telah dibeli atau bisa membeli emas dalam bentuk tabungan yang ada jasa penitipan, seperti: Pegadaian, Indogold.

Baca juga : Pengalaman Menabung Emas di Pegadaian

5. Risiko Volatilitas
Karena emas diperdagangkan secara global, pergerakan harganya sangat dipengaruhi oleh demand & supply. Ini menjadikan harga emas fluktuatif (naik-turun). Oleh karena itu, emas tak lepas dari risiko volatilitas. Contohnya saja, emas global menyentuh harga ATH (All Time High) pada tahun 2011. Sejak saat itu, emas belum pernah lagi menyentuh harga ATH nya. Artinya, yg beli emas pada 2011 masih mengalami loss (benchmark USD). Walau tak sefluktuatif saham, tapi tetap ada risiko volatilitas pada saat berinvestasi emas.
Grafik Harga Emas dalam USD

No comments:

Powered by Blogger.