Peristiwa Economic Bubble Terparah dalam Sejarah

Membeli aset dengan tujuan berinvestasi tidak sesimpel membeli lalu berharap harga naik di masa depan. Sepanjang sejarah perekonomian dunia, kita bisa mengamati bahwa perekonomian memiliki siklusnya. Ada fenomena menarik yang selalu terjadi terhadap siklus pergerakan harga aset yaitu fenomena bubble and burst. Sama seperti barang di pasar, aset yang diperdagangkan secara bebas, harganya akan dibentuk oleh permintaan dan penawaran di pasar. Fenomena bubble merupakan fenomena yang ditandai dengan kenaikan harga aset secara drastis. Kenaikan harga aset ini disebabkan oleh perilaku pasar yang tidak rasional, cenderung terlalu optimis, dan bersifat spekulatif. Selama fenomena bubble terjadi, harga aset diperdagangkan pada harga yang relatif lebih "mahal" (overvalued) daripada nilai wajarnya. Karena perilaku yang bersifat spekulatif inilah, di kemudian hari memungkinkan terjadinya fenomena bubble burst (gelembung pecah), sebuah fenomena yang ditandai dengan turunnya harga secara drastis dalam waktu yang singkat. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya buyer yang mau membeli di harga yang lebih tinggi.

Tahapan Siklus Bubble-Burst

Menurut salah seorang ekonom Amerika Serikat bernama Hyman P. Minsky ada beberapa tahap terjadinya fenomena bubble-burst dalam ekonomi, antara lain:
1. Displacement
2. Boom
3. Euphoria
4. Profit-Taking
5. Panic

Peristiwa Economic Bubble Terbesar

1. Tulipmania (1636-1637)
Fenomena Tulipmania ini disebut-sebut sebagai fenomena bubble pertama yang tercatat dalam sejarah. Tulipmania terjadi pada era keemasan Belanda antara tahun 1636 hingga 1637. Tulip bukanlah bunga asli Belanda. Bunga ini diperkenalkan oleh Sultan Turki Ottoman ke Eropa (tepatnya Vienna, Austria) pada pertengahan abad-16 (1554). Karena keunikan warnanya dan mampu tumbuh di negara dataran sangat rendah seperti Belanda, bunga ini menjadi cepat populer di negara Kincir Angin dan sekitarnya. Pada masa bubble, muncul varian baru Tulip. Varian ini adalah varian Tulip yang terpapar virus. Warna yang dihasilkan akibat virus pada Tulip sangat unik sehingga pada masanya varian ini dihargai sangat mahal. Pada puncaknya di Februari 1637, harga setangkai Tulip bisa mencapai 5,000 gulden (naik 200 kali lipat dari harga normal). Jika dikonversikan ke kurs sekarang, diperkirakan setara dengan $500,000 - $ 750,000 hari ini (~ 1 milyar rupiah). Saat bubble pecah pada Mei 1637, harga Tulip jatuh ke level harga normal.
Indeks Harga Tulip saat Periode Bubble

Terkait dengan skala dan dampak dari fenomena Tulipmania di Belanda masih menjadi perdebatan sampai saat ini. Literatur tertua mengatakan fenomena ini cukup berefek pada perkonomian Belanda. Namun ada literatur juga yang mengatakan bahwa skala dan fenomena dari bubble bunga Tulip jauh lebih kecil dari yang dituliskan. Walau masih simpang siur, saya tetap memasukan fenomena Tulipmania sebagai peristiwa bubble terparah dikarenakan fenomena ini merupakan fenomena bubble tertua (yang tercatat dalam sejarah) atas suatu barang/jasa yang memiliki utilitas rendah. Di kehidupan modern kita sering menjumpai  fenomena yang mirip, contohnya fenomena batu akik, bunga gelombang cinta, dll.

2. South Sea Bubble (1711-1720)
Akibat 2 perang berkepanjangan yang terjadi pada awal tahun 1700-an (Great Northern War dan perang dengan Perancis), situasi ekonomi Inggris mulai memburuk. Inggris membutuhkan dana, sementara Bank of England agak tidak lancar dalam memberikan pinjaman. Karena inilah, Menteri Keuangan Inggris, Robert Harley berinisiatif untuk membentuk sebuah perusahaan dagang bernama South Sea Company pada tahun 1711 untuk mendapatkan dana segar. Sebelum era kolonialisme, beberapa negara Eropa biasa membentuk perusahaan dagang untuk meningkatkan kekayaan negaranya, contohnya VOC (Belanda untuk area Hindia Timur), EIC (Inggris untuk area Hindia Timur), dll. South Sea Company dibuat untuk menjadi perusahaan dagang di area Amerika Selatan yang saat itu sedang dikuasai oleh Spanyol. Perusahaan ini memiliki kegiatan ekonomi utama yaitu menjual budak dari Afrika. South Sea Company dibentuk dengan skema perusahaan sebagai berikut
1. menerbitkan saham yang bisa dibeli oleh investor umum, lalu
2. uang hasil penjualan saham dipinjam oleh pemerintah sebagai utang pemerintah, lalu
3. pemerintah akan membayar utang ini setiap tahun, lalu
4. pembayaran utang ini akan dibagikan ke investor sebagai dividen dengan yield 6%/tahun.

Perusahaan ini digadang-gadang akan menjadi salah satu perusahaan dagang yang sukses karena kawasan Amerika Selatan dipandang memiliki prospek yang cerah. Walau telah diberikan hak monopoli perdagangan dengan Spanyol di Amerika Selatan, tetap saja South Sea Company belum mampu mencetak untung yang signifikan selama 1711-1720. Meskipun begitu, perusahaan tetap menerbitkan saham-saham baru beberapa kali. Selama 1711-1720, pendiri dan direksi rajin menyebarkan rumor (hoax) tentang keuntungan dan prospek deal-deal di masa depan. Pada puncaknya di tahun 1720, harga saham South Sea Company meroket dari yang awalnya 100 pounds/lembar (Januari 1720) menjadi 1.000 pound/lembar (awal Agustus 1720). Pada harga inilah profit taking besar-besaran terjadi dan menyebabkan harga saham anjlok. Investor yang membeli di harga atas dengan modal utang mau tak mau harus menjual sahamnya untuk membayar utang. Akibatnya, aksi jual terus melanda dan harga terjun bebas ke 150 pound per lembar pada September 1720.


3. Dot-Com Bubble (1997-2000)
Dot-Com Bubble bisa dibilang salah satu peristiwa crash pasar saham terparah dalam sejarah Amerika Serikat. Ketika internet mulai berkembang pesat di Amerika Serikat pada pertengahan 1990-an, mulai muncul banyak perusahaan teknologi yang memanfaatkan internet. Mirip sekali dengan kondisi sekarang yang hampir semua bisnis menggunakan teknologi internet. Walaupun penetrasi teknologi dulu belum setinggi era sekarang, namun lahir berbagai perusahaan teknologi yang mungkin saja belum menyelesaikan problem/kebutuhan di eranya. Banyak perusahaan yang didirikan karena hype saja. Alhasil, rata-rata perusahaan yang IPO berjenis penny stocks dengan fundamental yang tidak terlalu baik, seperti: Pets.com, Webvan, Boo.com, Worldcom, NorthPoint Communications, Global Crossing, dll. Hanya dalam kurun waktu tahun 1995-2000, indeks NASDAQ (indeks yang berisi saham perusahaan teknologi di USA), telah meningkat 400% dengan PER indeks di 200x. Kenaikan yang begitu masif ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti: investasi besar-besaran oleh venture capital (pendanaan start up) dan tingginya minat investor ritel untuk membeli saham perusahaan teknologi walaupun secara valuasi sudah mahal.

Pada 10 Maret 2000, NASDAQ mencapai puncaknya pada 5,048.62. Tak berselang lama, pada 10 Maret 2000, beredar kabar bahwa Jepang terkena badai resesi lagi. Kondisi ekonomi global juga memburuk dikarenakan terjadi krisis finansial di Asia. Bursa dunia pun terguncang. Banyak pemberitaan mengenai perusahaan teknologi yang mulai mengalami kesulitan finansial. Kondisi ini memicu aksi jual besar-besaran pada aset saham. Indeks NASDAQ pun memasuki posisi bearish hingga tahun 2002. Pada 9 Oktober 2002, NASDAQ menyentuh titik terendahnya di 1,114. NASDAQ telah kehilangan 78% dari kondisi puncak dan kehilangan kapitalisasi pasar sebesar 5 triliun USD. NASDAQ membutuhkan waktu sekitar 15 tahun untuk kembali ke titik puncak tahun 2000.

Indeks NASDAQ yang mengalami crash pada tahun 2000

4. Real Estate Bubble (2000-2008)
Pemerintah Amerika Serikat berupaya meningkatkan kepemilikan rumah untuk masyarakat dengan mengadopsi sistem house ownership dari Inggris yang disebut mortgage (hipotek) -- kalau di Indonesia sama dengan KPR. Pada tahun 1970-an, Pemerintah melalui Ginnie Mae, Fannie Mae, Freddie Mac mengeluarkan produk derivatif bernama Mortgage-Backed Securities (efek yang dijamin dengan aset properti). MBS ini merupakan KPR dari berbagai bank yang telah disatukan dan dijual ke investor (baik ritel maupun institusi). Awalnya, MBS ini dinilai aman karena yang bisa mengajukan pinjaman ke bank memang hanya peminjam yang qualified (prime mortgage). Namun semua berubah sejak Pemerintah melonggarkan aturan terkait mortgage pada tahun 1990-an. Pemerintah membuat kebijakan yang memungkinkan masyarakat dengan penghasilan rendah atau dengan credit score yang buruk bisa mengajukan pinjaman untuk membeli rumah (inilah yang disebut sub-prime mortgage). Sub-prime mortgage ini disukai oleh Bank dikarenakan menjanjikan margin profit yang lebih besar karena bunga yang dikenakan juga lebih besar. Saat itu, aset berupa real estate dinilai memiliki risiko yang kecil karena papan termasuk kebutuhan pokok. "Siapa sih yang akan ngemplang bayar cicilan rumah?".

Housing Price Index di Amerika Serikat

Selain pelonggaran aturan terkait sub-prime mortgage, Pemerintah USA juga melakukan deregulasi terkait bank dan produk derivatif. Bank konvensional diperbolehkan menggunakan deposit nasabah untuk beraktivitas di pasar efek seperti halnya Investment Bank. Bank mulai agresif dalam berinvestasi terutama di sektor mortgage. Investment Bank mengeluarkan produk derivatif baru yaitu CDO (Collateralized Debt Obligation) pada awal tahun 1990-an. CDO merupakan efek utang yang berasal dari berbagai jenis utang berjaminan (MBS, corporate loans, dll) yang telah di-bundling. Sub-prime mortgage yang sebenarnya memiliki rating kredit rendah setelah dicampur dengan beberapa utang lain bisa menjadi produk baru yang memiliki rating kredit tinggi. Begitulah prinsip CDO. CDO disukai oleh investor dan investment bank karena dinilai aman dan margin profit yang tinggi. Produk derivatif lain yang muncul adalah CDS (Credit Default Swap). Produk ini merupakan asuransi untuk menghilangkan risiko gagal bayar dari CDO. Investor membayar premi CDS, sehingga saat CDO gagal bayar akan diganti oleh penjual CDS. Investor yang membeli CDO biasanya juga akan membeli premi CDS.
Suku Bunga the Fed

Pada tahun 1990-an, harga real estate terus mengalami kenaikan dikarenakan peningkatan permintaan rumah dan besarnya investasi oleh investment bank pada produk derivative di bidang real estate (MBS, CDO, CDS). Mendekati tahun 2000 terjadi krisis mata uang di Asia dan dot-com bubble. Untuk mengurangi dampak ekonomi akibat krisis ini, the Fed menurunkan suku bunga secara drastis dari 6.5% ke 1.00% antara tahun 2000-2003. Rendahnya suku bunga ini mendorong masyarakat untuk mengajukan mortgage. Alhasil, harga properti terus mengalami kenaikan dan terbentuklah bubble di sektor real estate. The Fed yang mulai mencium adanya bubble di sektor properti, mulai menaikkan suku bunga dari 1.00% ke 5.25% antara tahun 2004-2006 untuk mengurangi permintaan masyarakat terhadap industri properti. Akibat kebijakan ini, debitur mortgage (peminjam KPR) sangat terdampak, terutama yang berjenis sub-prime mortgage (karena bunga yang jauh lebih tinggi) dan adjustable-rate. Efeknya mulai banyak terjadi gagal bayar pada sub-prime mortgage. Gagal bayar sub-prime mortgage ini berefek domino. MBS jatuh lalu diikuti kejatuhan CDO. Investment bank yang memiliki aset dalam bentuk CDO harus menderita kerugian besar dan rentan bangkrut. Para penjual CDS harus membayar klaim akibat gagal bayar pada CDO. Karena jumlahnya terlalu besar menyebabkan penjual CDS, seperti AIG, berkemungkinan besar mengalami kebangkrutan. Jika AIG bangkrut, efeknya makin berantai ke sektor riil. Akibatnya  pada tahun 2008, pasar saham dan real estate mengalami crash di berbagai negara. Pada puncaknya, Dow Jones kehilangan 50% nilainya hanya dalam waktu 1 tahun.


5. Japan's Asset Price Bubble (1986-1991)
Pada tahun 1970 - 1980an, Jepang merupakan salah satu kompetitor utama Amerika Serikat. Perekonomian Jepang sangat kuat ditopang oleh ekspor yang tinggi (surplus neraca dagang sangat besar). Karena perekonomian yang terus bertumbuh, pada tahun 1980-an Jepang menjadi negara dengan GDP terbesar kedua di dunia (di belakang Amerika Serikat). Harga aset seperti saham dan properti terus mengalami kenaikan dan mencatatkan All-Time High.  Dilihat dari kondisi saat itu, tampaknya Jepang akan mampu menggeser Amerika Serikat dalam beberapa dekade ke depan. Namun, semenjak awal 1990-an hingga sekarang, Jepang mengalami stagnansi ekonomi (ekonomi tidak tumbuh). Mengapa ini bisa terjadi?

Apabila mata uang suatu negara relatif "lemah" biasanya cenderung akan menstimulasi ekspor karena harga barang-barang dari negara tersebut dipandang lebih murah. Sebaliknya, apabila mata uang suatu negara terlalu "kuat" terhadap mata uang negara lain, biasanya akan menghambat ekspor dan meningkatkan impor negara tersebut, efeknya adalah defisit neraca dagang. Defisit neraca dagang secara jangka panjang bisa menyebabkan banyak permasalahan ekonomi seperti: resesi, krisis, dll. Inilah yang terjadi saat itu pada Amerika Serikat. Pada rentang tahun 1980-1985, USD mengalami apresiasi lebih dari 50% terhadap Yen, Poundsterling, Franc, Deutsche Mark. Dilatarbelakangi oleh apresiasi dollar (USD kuat) dan kondisi defisit neraca perdagangan, Amerika Serikat menyelenggarakan pertemuan dengan G-5 (Jepang, Jerman Barat, UK dan Perancis) pada tahun 1985. Pertemuan ini menghasilkan Plaza Accord yang berisi tentang kebijakan depresiasi USD terhadap Yen (mata uang Jepang) dan Deutsche Mark (mata uang Jerman). Jadi, dollar Amerika Serikat dengan sengaja akan dilemahkan terhadap kedua mata uang tersebut. Terbukti setelah Plaza Accord, USD mulai melemah terhadap Yen. USD mengalami depresiasi terhadap Yen dan Deutsche Mark hingga 50% antara tahun 1985-1987. USD terdepresiasi artinya Yen berbalik mengalami apresiasi (menguat). Kondisi menguatnya mata uang secara drastis ini nyatanya malah menimbulkan efek negatif ke perekonomian Jepang. Harga barang-barang dari Jepang dipandang lebih mahal. Akibatnya, ekspor Jepang mengalami penurunan. Padahal Jepang saat itu merupakan negara yang berbasis ekspor. Perekonomian Jepang yang biasanya selalu bertumbuh, akhirnya mengalami goncangan hebat. Resesi pun terjadi antara tahun 1985-1986.

Untuk mengatasi resesi akibat apresiasi mata uang Yen, BOJ (Bank of Japan), Bank Sentral Jepang melakukan pelonggaran moneter dengan menurunkan suku bunga. Suku bunga yang awalnya berada pada 5.0% di akhir tahun 1985, diturunkan 5 kali ke 4.5%, 4%, 3.5%, 3%, dan 2.5% hanya dalam jangka waktu 1 tahun (1985-1986). Pelonggaran moneter secara masif ini berakibat pada peningkatan investasi di pasar saham dan properti. Dengan suku bunga rendah, investor cenderung menaruh uangnya di tempat yang menghasilkan yield lebih tinggi. Kondisi suku bunga rendah ini juga berimplikasi pada banyaknya orang yang meminjam uang dari bank untuk diinvestasikan ke pasar saham & properti. Saat itu, pasar saham dan properti dinilai mampu memberikan imbal hasil tinggi. Disinilah asset price bubble mulai terbentuk dan makin membesar. Antara tahun 1986-1989, pasar saham terus mencetak rekor. Begitu pula dengan harga properti yang terus melejit. BOJ yang sebenarnya sudah mencium adanya bubble tidak berbuat apapun hingga 1989. Baru pada Mei 1989, BOJ mulai melakukan pengetatan moneter dengan menaikkan suku bunga. Suku bunga dinaikkan dari 2.5% ke 3.25%, 3.75%, 4.25%, 5.25% dan 6.00% hanya dalam waktu 1 tahun (1989-1990). Tapi, ini ternyata sudah terlambat. Indeks Nikkei 225 mencapai puncaknya di 38,915 pada Desember 1989 dengan PER indeks sekitar 80x. Tak lama berselang setelah BOJ melakukan pengetatan moneter (menaikkan suku bunga), bursa saham Jepang mengalami crash. Sembilan bulan setelah mecetak ATH, Nikkei crash dan sudah berada di kisaran 20.000. Bursa saham sudah kehilangan 60% nilainya sejak 1989 hingga 1992. Sejak mengalami crash tersebut, Nikkei terus berada dalam trend turun selama lebih dari 1 dekade. Bahkan hingga sampai sekarang, bursa saham Jepang belum pernah mencetak ATH lagi. Pasar real estate yang juga mengalami bubble, sedikit lebih lambat bereaksi dan baru mengalami penurunan pada tahun 1991. Sejak saat itu, pasar real estate Jepang selalu dalam trend turun selama 2 dekade. Sudah hampir 30 tahun tetapi pasar saham dan real estate Jepang belum pernah lagi mencapai level pre-crash

Indeks Nikkei 225 yang belum pernah mencetak ATH lagi

Pecahnya bubble yang ditandai dengan anjloknya harga saham dan properti secara drastis menimbulkan efek domino. Sebagian besar perusahaan di Jepang neraca memiliki karakteristik asset-based, sehingga harga aset sangat mempengaruhi neraca perusahaan. Karena anjloknya harga aset, seperti saham dan properti, maka neraca perusahaan ikut hancur lebur juga. Banyak perusahaan yang mengalami rugi besar. Perusahaan yang tidak mampu membayar utang dan mengatasi kerugian terpaksa harus gulung tikar.

Pasar properti di Jepang yang mengalami bubble

Efek pecahnya bubble tidak hanya berefek ke perusahaan dan pasar modal saja. Lebih jauh lagi, ternyata dampak jatuhnya pasar saham dan properti di Jepang telah menimbulkan efek psikologis ke investor ritel (masyarakat). Tingkat konsumsi dan investasi masyarakat Jepang turun. Masyarakat cenderung menjadi lebih hemat dalam melakukan konsumsi dan investasi. Kebiasaan menunda spending ini secara tidak langsung mengakibatkan terjadinya deflasi (turunnya harga barang-barang secara umum) selama beberapa dekade bahkan hingga sekarang. Karena deflasi dan berbagai faktor (aging population), perekonomian Jepang tidak mengalami pertumbuhan signifikan sejak 1993. Sejak saat itu, Jepang juga telah beberapa kali diterpa krisis dan resesi.

Data PDB Jepang,
1993: 4.45 trillion USD
2019: 5.08 trillion USD

Bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi China,
1993:   0.45 trillion USD
2019: 14.34 trillion USD

Referensi:

2 comments:

Powered by Blogger.