Pengalaman Bawa Sepeda di Pesawat

Hari yang tidak dinanti-nantikan telah tiba. Saya yang sudah menjalani WFH di Blora sejak Desember 2020 hingga Agustus 2021, harus siap berpisah kembali dari keluarga karena harus kembali ke kota Pekanbaru untuk bekerja secara WFO. Tapi tidak apalah, disyukuri saja, masih diberikan kesempatan untuk mencari sesuap nasi. Selama periode WFH ini, saya merasakan banyak perubahan. Misalnya saja badan saya jadi makin subur. Selain itu, saya merasa sekarang lebih mudah capek, fisik saya mulai agak menurun karena jarang berolahraga. Pada Februari 2021 lalu, saya membeli sebuah sepeda lipat Polygon Urbano 5 dengan maksud agar rutin berolahraga sehingga bisa membakar lemak yang ada dalam tubuh dan meningkatkan kondisi fisik. Saat keputusan WFO diumumkan, saya pun kepikiran untuk membawa sepeda lipat ke Pekanbaru. Ada beberapa opsi agar sepeda lipat bisa sampai di Pekanbaru: (1)kirim dengan ekspedisi/cargo, (2)bawa sepeda lipat di pesawat, dll. Setelah berbagai pertimbangan seperti: kecepatan, biaya, dan peluang kerusakan, akhirnya saya memutuskan untuk membawa sepeda lipat di pesawat. Bagaimana pengalaman pertama saya membawa sepeda di pesawat? Check this out!!

Blora merupakan kota kecil di Jawa Tengah, jadi sudah jelas tidak ada bandara (NB: saat ini sedang dibangun bandara kecil di Cepu). Jadi, saya harus ke kota lain untuk bisa terbang ke Pekanbaru. Saya sudah mencari-cari jadwal penerbangan di bandara sekitar Blora seperti Bandara Ahmad Yani, Juanda, dan Adi Soemarmo, Adi Sutjipto, Yogyakarta International Airport dan ternyata yang bisa direct ke Pekanbaru hanyalah Bandara YIA. Lalu, saya booking tiket untuk hari Minggu tanggal 8 Agustus 2021, tapi saya rencanakan berangkat dari Blora pada hari Jum'at tanggal 6 Agustus 2021, karena harus tes PCR dulu di Jogja. Saya akan terbang menggunakan maskapai Citilink. Saya sebenarnya sudah kepikiran mengenai sepeda ini sejak seminggu sebelum keberangkatan, namun saya baru mulai bertindak sekitar 3 hari sebelum keberangkatan. Saya baru mulai browsing di internet tentang cara membawa sepeda. Saya baca di salah satu blog kalau mau bawa sepeda di pesawat ya tinggal bawa saja, nanti di bandara ada jasa wrapping pakai plastik, ada juga yang merekomendasikan pakai kardus. Saya yang takut kalau sepeda saya kenapa-kenapa, merencanakan untuk packing sepeda lipat dengan kardus dan bubble wrap. Sepeda lipat akan di-bubble wrap seluruhnya, lalu dimasukkan ke kardus. Itu rencana saya. Tapi ternyata nasib berkata lain. Saya tidak bisa menemukan kardus berukuran besar yang bisa muat sepeda lipat, padahal hampir seluruh toko di Blora sudah dijelajahi. Setelah diskusi dengan pacar, saya memutuskan untuk packing menggunakan bubble wrap saja tapi berlapis-lapis. Seperti beginilah kira-kira penampakan sepeda lipat setelah dilipat dan di-pack dengan bubble wrap. Tidak lupa, saya telah mengeluarkan angin dalam ban.

Sepeda lipat yang sudah dibungkus bubble wrap

Pada hari Jum'at, 6 Agustus, saya pun berangkat dari Blora menggunakan travel ke Jogja. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 6 jam dan sepeda saya disimpan di bagasi belakang (jenis mobil sedan). Sesampainya di Jogja, saya menginap di hotel Pesonna Malioboro selama 2 malam dan sepeda disimpan di dalam kamar. Penampakannya seperti ini.

Saya menyimpan sepeda lipat dalam kamar hotel

Pada hari Minggu, 8 Agustus 2021, saya berangkat dari hotel menuju bandara YIA menggunakan Satelq. Sepeda ditaruh di belakang bertumpukan dengan barang-barang penumpang lain. Sesampainya di bandara, saya menggunakan trolley untuk membawa barang-barang, kebetulan saya juga membawa 1 tas besar. Keberadaan trolley di bandara ini sangat saya rasakan manfaatnya. Begini penampakan sepeda saya di trolley.

Sepeda lipat di trolley bersama dengan bawaan lain

Saya sampai di bandara cukup pagi sekitar jam setengah 8 padahal penerbangan jam setengah 11, sehingga saya harus menunggu beberapa jam untuk boarding. Sekitar jam 9, saya pun masuk ke dalam bandara. Seperti biasa, ada pengecekan persyaratan penerbangan seperti: PCR dan sertifikat vaksin. Setelah saya dinyatakan memenuhi syarat terbang, saya pun langsung menuju counter Citilink untuk check in dan boarding. Saat menuju counter, saya ditawari jasa bungkus paket, tapi saya menolak karena mahal. Biaya untuk bungkus paket sepeda lipat sebesar Rp 120.000,-. Saya pikir tidak perlulah sepeda ini dibungkus lagi, toh kan juga cuma akan dibungkus pakai plastik. Saat sampai di counter Citilink, saya ditanyai tentang sepeda ini. Saya menjawab bahwa bungkusan ini isinya sepeda lipat. Sesuai dengan regulasi Citilink, untuk sepeda dan peralatan olahraga akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100.000/10kg dengan kelipatan 10kg. Setelah ditimbang, berat sepeda saya sekitar 13kg, sehingga biaya tambahan yang perlu dibayar adalah Rp 200.000. Kata CS, paket sepeda ini nanti akan dipisahkan dengan bagasi biasa. Selain itu, akan dipasang sticker "Fragile" dan nanti akan di-handle with care. Ini penting karena kadang petugas suka melempar-lempar koper/barang. Sejujurnya saat membawa sepeda ini, saya lumayan ketar-ketir takut kalau sampai rusak. Soalnya selama penerbangan juga tidak tersedia asuransi. Tapi, dalam hati saya menangkan diri dengan berkata "kalau sepeda ini rusak ya tinggal diperbaiki saja, gitu aja kok repot hehehe".

Sekitar jam setengah 2 siang, saya pun sampai di Pekanbaru. Seperti biasa, saya menunggu dan mengambil barang-barang yang ditaruh di bagasi, termasuk sepeda. Saya mengamati dari CCTV, sepeda ini memang diletakkan di bagasi yang berbeda dengan bagasi biasa, tapi sepertinya malah disatukan dengan koper/barang yang berukuran besar. Setelah barang saya terkumpul semua, saya lalu pesan taksi menuju kos. Sesampainya di kos, langsung saya buka paket sepeda lipatnya. Setelah saya cek dengan detil, Alhamdulillah tidak ada kerusakan berarti. Tidak ada part yang hilang. Minusnya cuma 1 yaitu ada sedikit bagian yang lecet/gompal. Yang cukup parah dan kelihatan ada di bagian lipatan. Saya kurang tahu apakah lecet ini disebabkan saat proses penerbangan atau saat proses transportasi menuju/dari bandara. Bisa saja lecet ini terjadi saat naik travel/satelq/perpindahan di hotel. Besar kemungkinan, lecet ini terjadi karena benturan dalam bagasi pesawat.

Membuka bubble wrap yang membungkus sepeda lipat

Lecet cukup parah di bagian lipatan sepeda

Kesimpulan
Overall, saya cukup puas dengan pengalaman pertama membawa sepeda dalam pesawat ini. Walau ada lecet, saya tidak akan kapok untuk mengulangi membawa sepeda di peswat karena secara biaya dan waktu lebih menguntungkan. Saran untuk saya pribadi dan teman-teman yang ingin membawa sepeda ke dalam pesawat, lakukan packing dengan lebih bagus dan kuat. Selain menggunakan bubble wrap berlapis, usahakan juga menggunakan kardus. Kalau tidak ada waktu, carilah jasa packing sepeda yang terpercaya di kota anda. Akhir kata, semoga tulisan ini bermanfaat. Salam gowes!!

No comments:

Powered by Blogger.