Buffett Indicator, Indikator Valuasi Pasar Saham

Saham merupakan instrumen investasi yang high risk-high return. Instrumen ini diperdagangkan secara bebas di bursa. Karena diperdagangkan secara bebas, tentunya harganya akan sangat dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran. Berbagai analisa sering digunakan untuk memprediksi harga saham, seperti analisa fundamental, teknikal, bandarmologi, dll. Karena saya beraliran fundamental, saya sering menggunakan indikator-indikator untuk mengetahui valuasi dari saham. Kali ini saya ingin memperkenalkan salah satu indikator yang cukup powerful untuk menganalisa valuasi pasar saham yaitu Buffett Indicator. Apa itu Buffett Indicator?

Buffett Indicator merupakan indikator rasio yang dipopulerkan oleh Warren Buffett untuk menentukan apakah suatu bursa saham termasuk overvalued atau undervalued. Hasil kajian Warren Buffet mengindikasikan bahwa ada korelasi yang kuat antara pertumbuhan GDP suatu negara dan pertumbuhan laba korporasi. Buffett Indicator ini mulai terkenal saat kejadian dot-com bubble di tahun 1999 lalu. Saat itu, banyak saham teknologi yang harganya naik gila-gilaan. Di saat saham teknologi menggila, performa Warren Buffett melalui perusahaannya Berkshire Hathaway malah minus (ketinggalan 40% dari S&P 500). Warren Buffet baru terbukti benar, setelah bubble meletus di tahun 2001-2002. Banyak perusahaan teknologi bangkrut dan bursa Amerika Serikat pun turun drastis. Performa Warren Buffet mengungguli hampir 80% dari performa S&P 500. Rumus dari Buffett Indicator adalah kapitalisasi pasar suatu bursa saham dibagi dengan GDP suatu negara. 
Buffet Indicator
Berdasarkan historis bursa US sampai sekarang, berikut klasifikasi valuasi menggunakan Buffet Indicator:
diambil dari gurufocus.com

Kapitalisasi Pasar (Total Market Capitalization)

Kapitalisasi pasar merupakan nilai dari suatu objek dihargai di pasar. Karena kita sedang membahas saham, maka objeknya adalah perusahaan. Rumusnya = Jumlah lembar saham x harga per lembar. Setiap perusahaan publik yang ada di bursa saham memiliki kapitalisasi pasar masing-masing dikarenakan memiliki harga dan nilai perusahaan yang berbeda. Inilah yang membedakan pengkategorian suatu perusahaan seperti big cap, blue chip, second liner, small caps, pennny stocks, dll. Jika kapitalisasi pasar semua perusahaan publik yang listing di bursa dijumlahkan maka hasilnya adalah total kapitaliasi pasar bursa. Kita investor tidak perlu repot-repot menghitung, karena setiap bursa di dunia ini pasti memberikan data Total Market Capitalization setiap hari. Saya akan mencontohkan salah satu cara untuk melihat Total Market Cap bursa saham Indonesia (BEI/IDX) dari infografis yang saya dapatkan dari twitter @IDX_BEI.

Dapat kita lihat bahwa untuk perdagangan tanggal 8 November 2021, Bursa Efek Indonesia memiliki kapitalisasi pasar sebesar 8.141 trilliun rupiah.

GDP (Gross Domestic Product)

GDP (Gross Domestic Product) atau PDB (Pendapatan Domestik Bruto) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh unit-unit produksi di suatu negara selama periode tertentu. Rumus untuk menghitung GDP dengan pendekatan pengeluaran adalah sebagai berikut:

GDP = konsumsi pribadi/swasta +  investasi swasta bruto + investasi pemerintah + pengeluaran pemerintah + (nilai ekspor– nilai impor)
GDP = C + I + G + (E-I)

Kita tidak perlu repot-repot menghitung PDB ini karena BPS (Badan Pusat Statistik) akan mengeluarkan laporan PDB setiap kuartal. Diambil dari BPS, PDB Indonesia tahun 2020 adalah 15.432 trilliun rupiah.

Dari data kapitalisasi market dan PDB, dapat dihitung Buffett Indicator (IHSG) saat ini yaitu sebesar 52.75%. Lalu, karena angkanya menunjukkan 52.75% apakah artinya bursa saham Indonesia undervalued? Eitsss.. tunggu dulu. Yang jelas kita tidak bisa mengambil angka Buffet Indicator bursa Amerika Serikat, lalu kita terapkan di bursa saham Indonesia karena ekosistem investasi di Indonesia jelas masih jauh tertinggal dari Amerika Serikat. Selain itu, adanya perbedaan sistem ekonomi di Indonesia dan Amerika Serikat tentunya akan mempengaruhi perusahaan yang bisa go public. Di Amerika Serikat, hampir semua perusahaan swasta yang bonafide disana go public. Sementara di Indonesia, rata-rata perusahaan bonafide merupakan multi national company (tidak listing di bursa Indonesia), banyak perusahaan berstatus perusahaan tertutup, dan ada BUMN-BUMN besar yang harus menjalankan PSO (Public Service Obligation) sehingga tidak bisa IPO. Oleh karena itu, kita tidak bisa menerapkan angka Buffett Indicator bursa US disini.

Diambil dari gurufocus.com yang telah mengamati historis bursa Indonesia, berikut klasifikasi Buffett Indicator bursa Indonesia:

Dengan angka Buffett Indicator sebesar 52.75%, dapat dibilang bahwa bursa Indonesia saat ini ada pada kondisi FAIR VALUED (hampir overvalued).


KEY TAKEAWAY

Untuk screening awal, Buffet Indicator bisa dibilang tools yang cukup ampuh untuk dijadikan landasan keputusan "masuk" ke pasar saham atau tidak, namun ada beberapa poin yang perlu diingat:

1. Buffett Indicator bersifat lagging. Seperti yang sudah diceritakan di atas, Warren Buffet baru benar, 3 tahun setelah saham teknologi di bursa Amerika Serikat mengalami rally gila-gilaan. Ini menjadi indikasi bahwa bisa saja saat ini suatu bursa saham overvalued, tapi belum tentu dalam waktu dekat langsung kembali ke nilai fair valued, bisa saja akan terus melanjutkan kenaikannya.

2. Aksi Bank Sentral sangat berpengaruh pada bursa saham. Keputusan yang dilakukan bank sentral seperti menaikkan/menurunkan interest rate, quantitative easing sangat berpengaruh pada bursa saham. Pengaruh ini akan menyebabkan Buffet Indicator menjadi kurang relevan lagi atau mungkin perlu dilakukan revisi dengan memasukkan faktor Bank Sentral. Buktinya, semenjak aksi quantitative easing oleh The Fed setelah krisis 2008 sampai sekarang, Buffet Indicator Bursa Amerika Serikat sejak tahun 2019 telah menunjukkan "Significantly Overvalued" dan bahkan menyentuh angka 200%. Dot-com bubble dan krisis finansial 2008 tidak ada apa-apanya dan tampak seperti "rally kecil" saja.
diambil dari currentmarketvaluation.com

3. Buffett Indicator cocok dipakai oleh investor reksadana indeks. Bagi investor reksadana indeks, indikator ini bisa dijadikan pertimbangan saat akan berinvestasi atau tidak. Karena saya sering menjumpai investor reksadana indeks yang seperti membeli kucing dalam karung dan berpedoman "Beli saja reksadana indeks terus, toh pasti naik jangka panjang". Walaupun indeks secara long term memiliki tendensi untuk naik terus, tapi tidak ada salahnya kita melihat indikator ini agar keuntungan kita lebih maksimal. Ingat, investasi saat bursa dalam kondisi bubble lebih berisiko daripada berinvestasi saat kondisi crash.

4. Selalu ada saham undervalued. Sepanjang investasi saya di bursa, saya mengamati selalu ada saham yang undervalued meskipun kondisi bursa sedang rally atau overvalued secara umum. Bagi investor retail seperti saya yang berusaha mencari saham-saham "murah" ini sangat penting. Kita tidak usah khawatir, saat Buffett Indicator menunjukkan overvalued bukan berarti tidak ada saham yang layak diinvestasi.
SHARE

Related Posts

Post a Comment